Kompas.com - 26/02/2021, 17:34 WIB
Kol. A.E. Kawilarang dan staf tiba di Makassar pada 20 April 1950 dan disambut hangat oleh Mayor H.V. Worang. Tampak Kol. A.E. Kawilarang bersama rombongan sedang berjalan menuju kota Makassar untuk mengatasi Pemberontakan Andi Aziz. IPPHOSKol. A.E. Kawilarang dan staf tiba di Makassar pada 20 April 1950 dan disambut hangat oleh Mayor H.V. Worang. Tampak Kol. A.E. Kawilarang bersama rombongan sedang berjalan menuju kota Makassar untuk mengatasi Pemberontakan Andi Aziz.

KOMPAS.com - Andi Azis merupakan mantan perwira KNIL (Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Andi Azis ingin mempertahankan Negara Indonesia Timur.

Di samping Andi Azis menentang campur tangan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) menyelesaikan konflik yang ada di Sulawesi Selatan.

Ia memberontak dan memimpin sendiri pasukannya untuk melakukan berbagai serangan pada April 1950 di Makassar.

Dilansir dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Andi Azis bersama pasukannya menyerang dan menduduki beberapa tempat vital di Makassar. Tidak hanya itu, ia Letnan Kolonel A.J. Mokoginta yang merupakan Panglima Teritorium Indonesia Timur, ditangkap.

Baca juga: Berbagai Pergolakan di Dalam Negeri (1948-1965)

Upaya pemerintah dalam menghadapi Pemberontakan Andi Azis

Setelah mengetahui hal ini, Pemerintah Indonesia langsung bertindak dengan mengeluarkan ultimatum kepada Andi Azis. Ultimatum ini dikeluarkan pada 8 April 1950.

Secara garis besar, ultimatum tersebut berisikan perintah agar Andi Azis melaporkan diri dan mempertanggungjawabkan perbuatannya ke Jakarta, sebelum 4 x 24 jam.

Jika Andi Azis tidak melakukannya, Kapal Angkatan Laut Hang Tuah akan mengebom Kota Makassar. Pemerintah Indonesia juga memerintahkan agar Andi Azis menyerahkan semua senjata yang dimiliki dan digunakannya serta membebaskan para tawanan.

Menurut Nugroho Notosusanto dalam buku Pejuang dan Prajurit (Konsepsi dan Implementasi Dwifungsi ABRI) (1985), upaya pemerintah dalam mengultimatum Andi Azis tidak berhasil. Akhirnya Pemerintah Indonesia mengirim ekspedisi ke Makassar pada 26 April 1950, yang dipimpin oleh Kolonel Alex Kawilarang. 

Andi Azis ditangkap pada 15 April 1950 saat ia datang ke Jakarta, dengan perjanjian jika ia tidak akan ditangkap. Namun, saat ia tiba di Jakarta, Andi Azis langsung ditangkap.


Sumber Kemdikbud
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X