Kompas.com - 24/02/2021, 10:55 WIB
Hujan yang sudah mulai malam sebelumnya, ternyata membawa ekor dipagi harinya -- banjir. Dibeberapa tempat di Ibukota Rabu pagi kemarin mengalami banjir ini. Bahkan dikata genangan air di jalan Thamrin lebih besar dan dalam bila dibandingkan dengan yang sudah-sudah. Banyak kendaraan bermotor mogok, hingga lalu lintas di jalan tersebut macet. Gambar menunjukkan betapa besarnya ,,gelombang yang tesera oleh kendaraan bermotor ini. Terkait berita Kompas, 05-03-1976 Kompas/Pat Hendranto (PH)Hujan yang sudah mulai malam sebelumnya, ternyata membawa ekor dipagi harinya -- banjir. Dibeberapa tempat di Ibukota Rabu pagi kemarin mengalami banjir ini. Bahkan dikata genangan air di jalan Thamrin lebih besar dan dalam bila dibandingkan dengan yang sudah-sudah. Banyak kendaraan bermotor mogok, hingga lalu lintas di jalan tersebut macet. Gambar menunjukkan betapa besarnya ,,gelombang yang tesera oleh kendaraan bermotor ini. Terkait berita Kompas, 05-03-1976

KOMPAS.com - Banjir di Jakarta sudah ada sejak zaman Kerajaan Tarumanegara, tepatnya saat Raja Purnawarman memimpin. Banjir di Jakarta juga terjadi saat Belanda menduduki Batavia.

Menurut Zaenuddin HM dalam buku Banjir Jakarta (2013), banjir di Batavia pada 1932 merupakan banjir terbesar terakhir pada era kekuasaan Hindia Belanda di Kota Batavia.

Lalu, bagaimana sejarah banjir di Jakarta setelah 1932?

Banjir Jakarta pada 1950

Setelah lima tahun Indonesia merdeka, Jakarta kembali direndam banjir. Wali Kota (Gubernur) Jakarta saat itu, Suwiryo harus menghadapi permasalahan banjir yang ditambah dengan permasalahan penduduk.

Banyak penduduk yang berdatangan ke Jakarta sehingga lahan kosong secara perlahan mulai diubah menjadi lahan permukiman. Daerah persawahan dan resapan air digali dan dibangun menjadi rumah, maka tak mengherankan jika daerah rendah di Jakarta lebih sering dilanda banjir.

Penyempitan dan pendangkalan sungai juga menjadi penyebab utama banjir saat itu. Air sungai menjadi lebih mudah meluap jika hujan turun deras.

 Baca juga: Sejarah Banjir Jakarta dari Zaman Tarumanegara hingga Hindia Belanda

Banjir Jakarta pada 1952

Banjir Jakarta pada 1952 disebabkan oleh luapan air Sungai Grogol yang tidak lagi mampu menerima banjir kiriman dari daerah Bogor dan Depok.

Syamsurizal sebagai Wali Kota Jakarta saat itu memerintahkan aparat untuk mengevakuasi penduduk ke tempat yang lebih aman. Banjir kali ini tidak menelan korban jiwa, hanya saja beberapa warga dirawat di puskesmas karena terserang penyakit.

Banjir Jakarta pada 1960

Penyebab utama banjir pada 1960 adalah luapan air dari beberapa sungai besar, seperti Kali Grogol dan Kali Angke serta jebolnya tanggul yang telah dibuat sebelumnya.

Tidak hanya kehilangan harta benda dan terserang penyakit, banyak warga Jakarta yang trauma karena adanya serangan hewan berbisa seperti ular dan kalajengking. 

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X