Kompas.com - 16/02/2021, 19:58 WIB
Setiap setahun sekali bertepatan dengan Idul Adha di Demak, berlangsung puncak acara tradisional Grebeg Besar Demak. Acara itu diisi dengan iring-iringan prajurit tempo dulu patangpuluhan (40 orang) dan penjamasan (membersihkan) pusaka peninggalan Sunan Kalijaga. KOMPAS/NATANAEL SUPRAPTO (SUP)Setiap setahun sekali bertepatan dengan Idul Adha di Demak, berlangsung puncak acara tradisional Grebeg Besar Demak. Acara itu diisi dengan iring-iringan prajurit tempo dulu patangpuluhan (40 orang) dan penjamasan (membersihkan) pusaka peninggalan Sunan Kalijaga.

KOMPAS.com - Grebeg Besar merupakan salah satu tradisi tahunan di Kota Demak, Jawa Tengah. Grebeg Besar biasanya dilakukan setiap tanggal 10 Dzulhijjah atau Idul Adha.

Pada zaman dahulu, acara Grebeg Besar ditujukan untuk mengenalkan agama Islam. Adanya acara ini, Wali Songo bisa lebih mendekatkan diri kepada masyarakat Demak

Dikutip dari situs Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, tradisi Grebeg Besar biasanya terdiri atas beberapa acara, yakni:

  1. Melakukan ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak serta Sunan Kalijaga
  2. Adanya acara pasar malam rakyat
  3. Selametan Tumpeng Songo
  4. Kirab budaya
  5. Penjamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kalijaga.

Tradisi Grebeg Besar tidak dapat dipisahkan dari peran Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam. Bagaimanakah sejarah tradisi Grebeg Besar di Demak?

Menurut Nur Ahmad dalam jurnal yang berjudul Perayaan Grebeg Besar Demak sebagai Sarana Religi dalam Komunikasi Dakwah, awalnya tradisi Grebeg Besar diadakan sebagai upacara peringatan hari jadi Masjid Demak yang dibangun oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jawi serta Sunan Ampel.

Baca juga: Kerajaan Demak, Kerajaan Islam Pertama dan Terbesar di Utara Jawa

Sebelum hari jadi dilangsungkan, dipikirkan beberapa upaya untuk menarik hati masyarakat Demak yang belum memeluk agama Islam. Akhirnya dibentuklah acara Grebek Demak.

Acara ini berisikan permainan maupun kesenian tradisional yang sangat digemari masyarakat Demak saat itu. Setelah keberhasilan acara tersebut, banyak masyarakat yang berdatangan ke Masjid Demak untuk mengikuti acara Grebek Demak.

Konon katanya, acara Grebeg sebenarnya sudah ada sejak 1506 Masehi, tepatnya pada zaman Kerajaan Majapahit. Namun, tradisi ini secara turun temurun terus diwariskan dan digunakan oleh raja-raja di Pulau Jawa.

Sejarah tradisi Grebeg Besar di Demak juga tidak bisa dipisahkan dari peran Sultan Fattah serta Sunan Kalijaga. Karena Sultan Fattah Sunan Kalijaga memutuskan untuk membuat tradisi grebeg sebagai media dakwah. Contohnya Grebeg Maulid, Grebeg Dal, Grebeg Syawal serta Grebeg Besar.

Mengutip dari jurnal yang berjudul Dinamika Grebeg Besar Demak Pada Tahun 1999-2003 (Tinjauan Sejarah dan Tradisi) (2014) karya Iwan Effendy, disebutkan jika dalam Bahasa Jawa, grebeg berarti suara angin yang menderu.

Namun, grebeg juga bisa diartikan sebagai pengumpulan beberapa orang di suatu tempat. Sedangkan untuk kata 'besar' dalam Grebeg Besar diambil dari nama bulan Besar atau Dzulhijah.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X