Teori Nebula

Kompas.com - 24/01/2021, 14:59 WIB
Nebula di langit utara Indonesia. Penampakan nebula ini diambil oleh LAPAN di Kupang. M Rayhan @rayhan_cygnus /Planetarium dan Observatorium Jakarta serta M D Danarianto/BPON LAPANNebula di langit utara Indonesia. Penampakan nebula ini diambil oleh LAPAN di Kupang.

KOMPAS.com - Ada beberapa teori yang menjelaskan pembentukan tata surya. Salah satunya teori nebula yang telah diterima secara luas oleh ilmuwan modern.

“Nebula” adalah kata dari bahasa latin yang berarti “awan”. Teori nebula awalnya dicetuskan pada tahun 1755 oleh seorang filsuf asal Jerman bernama Immanuel Kant.

Dilansir dari Encyclopedia Britannica, Kant beranggapan bahwa sebuah nebula atau awan berotasi dengan lambat dan perlahan-lahan tertarik oleh gaya gravitasinya dan membentuk tata surya.

Teori Kant didukung oleh seorang astronom dan ahli Matematika asam Perancis bernama Pierre Simon Laplace.

Dilansir dari NASA Solar System Exploration, pada 4,5 miliar tahun yang lalu tata surya kita hanya berupa nebula atau awan padat gas yang berisi debu-debu bintang.

Awan gas ini berputar dengan lambat namun terus-menerus membentuk nebula Matahari. Secara perlahan membentuk gaya gravitasi di inti nebula.

Gaya gravitasi tersebut menarik partikel-partikel debu dan gas nebula menjadi semakin mendekat membentuk suatu cakram atau disk. Cakram tersebut berotasi semakin cepat dan membuat inti nebula semakin padat.

Baca juga: Asal-usul dan Isi Teori Ledakan Besar

Kompas.com/SILMI NURUL UTAMI (1) nebula (2) cakram nebula yang tertarik gravitasi (3) matahari yang terbentuk di inti dan sisa nebula disekiratnya (4) terbentuknya tata surya

Tekanan dalam inti nebula semakin besar yang mengakibatkan atom hidrogen saling bertabrakan. Atom hidrogen yang bertabrakan kemudian membentuk helium yang memadat dan menciptakan reaksi fusi berantai. Pada saat inilah nebula telah berubah menjadi Matahari yang kita kenal.

Pada awal pembentukannya, 99 persen nebula memadat dan menjadi Matahari. Sebanyak 1 persen sisalnya menjadi nebula-nebula yang lebih kecil.

Nebula-nebula yang lebih kecil juga mulai terkondensasi menjadi cakram protoplanet. Inilah mengapa Matahari adalah benda paling besar di tata surya kita, mengambil 99% dari tata surya dan 1 persennya adalah planet serta benda lain dalam tata surya.

Dilansir dari Universe Today, nebula yang memiliki unsur logam membentuk planet terrestrial bagian dalam yaitu Bumi, Venus, Merkurius, dan Mars.

Sedangkan nebula tanpa unsur logam bersifat lebih dingin dan membentuk planet-planet raksasa bagian luar tata surya yaitu Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Nebula lainnya yang lebih kecil tidak berubah menjadi cakram protoplanet melainkan menjadi sabuk asteroid (tempat berkumpulnya asteroid), awan oort (tempat asalnya komet), dan sabuk Kuiper (tempat berkumpulnya benda yang lebih besar dari asteroid contohnya Pluto dan Eris.

Baca juga: Kenapa Pluto Bukan Lagi Planet?


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X