Kompas.com - 22/12/2020, 15:38 WIB
Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin (depan, nomor dua dari kiri, mengenakan jas dan bercelana pendek), bersama Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta, dan menteri-menteri kabinet pertama, 4 Oktober 1945. Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin (depan, nomor dua dari kiri, mengenakan jas dan bercelana pendek), bersama Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta, dan menteri-menteri kabinet pertama, 4 Oktober 1945.

KOMPAS.com – Perkembangan pers Indonesia di era orde lama dibagi menjadi tiga masa, yaitu masa revolusi fisik, masa demokrasi liberal, dan masa demokrasi terpimpin.

Masa revolusi fisik merupakan masa di mana bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaannya.

Masa ini berlangsung dari tahun 1945 sampai 1949. Pada masa ini, pers dibagi menjadi dua golongan yaitu pers yang diterbitkan oleh tentara sekutu dan Belanda atau disebut Pers NICA serta pers yang diterbitkan oleh rakyat Indonesia atau disebut Pers Republik.

Kedua pers tersebut memiliki agenda yang berbeda. Pers Nica berisikan propaganda yang ditujukan untuk memengaruhi rakyat Indonesia agar menerima kembali Belanda untuk berkuasa di Indonesia.

Sementara Pers Republik berisi kobaran semangat untuk tetap mempertahankan kemerdekaan dan menentang upaya Belanda yang ingin menanamkan kekuasaannya kembali di Indonesia.

Baca juga: Kebebasan Pers di Indonesia

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada masa revolusi fisik ini pula terjadi peristiwa penting terkait perkembangan pers di Indonesia.

Peristiwa tersebut yaitu didirikannya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tanggal 9 Februari 1946 dan didirikannya Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) pada tanggal 8 Juni 1946.

Kedua organisasi tersebut memegang peranan penting dalam sejarah pers Indonesia. Sejak dua organisasi tersebut berdiri, berbagai surat kabar mulai bermunculan di Indonesia.

Kemunculan berbagi pers pada masa revolusi fisik ini hanya memiliki satu tujuan, yaitu membantu pemerintah untuk berjuang mengusir penjajah.

Tujuan tersebut berbuah manis ketika dunia internasional mengakui kedaulatan Indonesia pada Desember 1949. Pengakuan kedaulatan Indonesia oleh dunia internasional menjadi awal kebebasan pers di era orde lama.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengapa Midnight Sun Terjadi?

Mengapa Midnight Sun Terjadi?

Skola
Zhangye Danxia, Pegunungan Pelangi di China

Zhangye Danxia, Pegunungan Pelangi di China

Skola
Istana Versailles Tidak Punya Toilet?

Istana Versailles Tidak Punya Toilet?

Skola
Narwhal Si Unicorn Laut

Narwhal Si Unicorn Laut

Skola
Alasan Tubuh Penguin Berwarna Hitam Putih

Alasan Tubuh Penguin Berwarna Hitam Putih

Skola
Mengenal Hydrangea, Bunga yang Bisa Berubah Warna

Mengenal Hydrangea, Bunga yang Bisa Berubah Warna

Skola
Slab City, Kota Tanpa Hukum di Amerika Serikat

Slab City, Kota Tanpa Hukum di Amerika Serikat

Skola
The Great Emu War: Kekalahan Manusia dari Burung Emu

The Great Emu War: Kekalahan Manusia dari Burung Emu

Skola
Apa itu Automatic Stabilizer dalam Perekonomian?

Apa itu Automatic Stabilizer dalam Perekonomian?

Skola
Pemanfaatan Oksida dan Pasir Silika

Pemanfaatan Oksida dan Pasir Silika

Skola
Bentuk Akulturasi India dan Indonesia di Bidang Pemerintahan

Bentuk Akulturasi India dan Indonesia di Bidang Pemerintahan

Skola
Ciri-Ciri Negara Agraris

Ciri-Ciri Negara Agraris

Skola
Fungsi dan Kegunaan Sejarah

Fungsi dan Kegunaan Sejarah

Skola
Sifat-Sifat Enzim, Fungsi, dan Cara Kerja

Sifat-Sifat Enzim, Fungsi, dan Cara Kerja

Skola
Sistem Pemerintahan dan Penduduk di Myanmar

Sistem Pemerintahan dan Penduduk di Myanmar

Skola
komentar
Close Ads X