Sejarah Taman Siswa: Pendirian dan Ajarannya

Kompas.com - 21/12/2020, 17:35 WIB
Museum Dewantara Kirti Griya Sistem Registrasi Nasional Cagar budaya Kementerian Pendidikan dan KebudayaanMuseum Dewantara Kirti Griya

KOMPAS.com - Taman Siswa adalah sebuah organisasi pendidikan alternatif yang didirikan oleh Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara. Taman Siswa berdiri pada 3 Juli 1922 di kota Yogyakarta.

Taman Siswa selalu menekankan prinsip nasionalisme dan kemerdekaan dalam pelaksanaan pendidikannya. Taman Siswa juga bersikap non-kooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Pendirian Taman Siswa

Pendirian Taman Siswa merupakan bentuk perlawanan Ki Hadjar Dewantara terhadap deskriminasi pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Dalam buku Munculnya Elite Modern Indonesia (2009) karya Robert Van Niel, pada masa Politik Etis (1901-1916), Belanda menerapkan sistem pendidikan bertingkat sesuai dengan status sosial masyarakat Indonesia.

Baca juga: Dampak Kolonialisme dan Imperialisme di Bidang Pendidikan

Rakyat jelata hanya diberikan pendidikan setingkat Sekolah Dasar (SD), sedangkan kaum priyayi dan bangsawan Eropa diperbolehkan untuk menempuh pendidikan tinggi. Bahkan, banyak kaum priyayi yang mendapat akses untuk berkuliah di Eropa.

Dengan kondisi sosial dan pendidikan yang seperti itulah, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa sebagai sarana perjuangan melawan kolonialisme Belanda.

Ajaran Taman Siswa

Organisasi Taman Siswa mengajarkan tentang dasar-dasar kemerdekaan bagi masyarakat pribumi Indonesia.

Ajaran kemerdekaan yang dimaksud Taman Siswa adalah kemerdekaan yang berasal dari diri sendiri.

Pendidikan di Taman Siswa selalu menekankan kepada siswanya untuk tidak bergantung kepada orang lain dan tetap berpegang teguh pada prinsip berdikari (berdiri di kaki sendiri).

Baca juga: Biografi Ki Hajar Dewantara: Bapak Pendidikan Bangsa

Pada perkembangannya, ajaran Taman Siswa menjadi dasar bagi kaum pribumi Indonesia untuk melakukan perjuangan kemerdekaan melawan kolonialisme Belanda.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Menghitung Luas Permukaan Kerucut

Cara Menghitung Luas Permukaan Kerucut

Skola
Cara Menghitung Luas Trapesium

Cara Menghitung Luas Trapesium

Skola
Cara Menghitung Luas Jajar Genjang

Cara Menghitung Luas Jajar Genjang

Skola
Rumus Beban Jungkat-Jungkit

Rumus Beban Jungkat-Jungkit

Skola
Jenis-Jenis Jembatan

Jenis-Jenis Jembatan

Skola
Contoh Surat Penawaran Resmi dan Balasannya

Contoh Surat Penawaran Resmi dan Balasannya

Skola
Surat Penawaran: Pengertian, Fungsi, Ciri-ciri, dan Strukturnya

Surat Penawaran: Pengertian, Fungsi, Ciri-ciri, dan Strukturnya

Skola
Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari 1904 Hingga 1949

Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari 1904 Hingga 1949

Skola
Sadariah, Pakaian Adat Laki-Laki Betawi

Sadariah, Pakaian Adat Laki-Laki Betawi

Skola
Baju Kurung Tanggung, Pakaian Adat Jambi

Baju Kurung Tanggung, Pakaian Adat Jambi

Skola
Cerita Mitos (Mite) dan Contohnya

Cerita Mitos (Mite) dan Contohnya

Skola
Pengertian Cerita Jenaka dan Contohnya

Pengertian Cerita Jenaka dan Contohnya

Skola
Unsur-Unsur Intrinsik Cerita Fiksi

Unsur-Unsur Intrinsik Cerita Fiksi

Skola
Cerita Fiksi: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Jenisnya

Cerita Fiksi: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Jenisnya

Skola
Kaligrafi: Pengertian, Perkembangan dan Fungsinya

Kaligrafi: Pengertian, Perkembangan dan Fungsinya

Skola
komentar
Close Ads X