Kalimat Majemuk: Pengertian, Jenis, dan Contoh

Kompas.com - 25/11/2020, 10:30 WIB
Ilustrasi kalimat majemuk. KOMPAS.com/ARUM SUTRISNI PUTRIIlustrasi kalimat majemuk.

KOMPAS.comKalimat majemuk adalah struktur kalimat yang memiliki lebih dari satu dasar kalimat. Berikut ini pengertian, jenis, dan contoh kalimat majemuk:

Mengutip Yendra dalam Mengenal Ilmu Bahasa (2018), kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan maupun tulisan yang mengungkapkan pikiran secara utuh atau satuan sintaksis, yang disusun dari konstituen dasar, yaitu berupa klausa atau susunan klausa yang membentuk sebuah kesatuan ujaran yang bermakna.

Sementara menurut Dendy Sugono dalam Sintaksis Bahasa Indonesia: Analisis Fungsi Sintaktik (2019), kalimat majemuk diartikan sebagai kata-kata yang memiliki struktur kalimat yang di dalamnya terdapat beberapa kalimat dasar.

Dalam kalimat majemuk, konjungsi memegang peranan penting. Konjungsi atau kata penghubung, berperan penting untuk menjadi jembatan antardasar kalimat dalam satu kalimat majemuk. 

Baca juga: Kalimat Langsung dan Tidak Langsung

Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara disebut juga kalimat majemuk koordinatif. Struktur kalimat di dalamnya terdapat paling sedikit dua kalimat dasar dan masing-masing dapat berdiri sendiri sebagai kalimat tunggal.

Berdasarkan konjungsi yang digunakan, kalimat majemuk setara dibagi menjadi empat jenis, yaitu:

  • Kalimat majemuk yang menyatakan penjumlahan.

Jenis kalimat ini disebut juga aditif. Jenis kalimat ini menggunakan konjungsi yang memperlihatkan hubungan penjumlahan dari kalimat dasar. Contoh konjungsinya adalah dan, serta, lagipula. Contoh:

  1. Aku membacakan buku dongeng dan adik-adik menyimak dengan antusias.
  2. Ibu membersihkan gudang di hari libur, ayah menata kebun, serta aku membereskan kamar tidur.
  3. Kita seharian hanya mengerjakan tugas tanpa pelajaran lisan, lagipula guru sedang ada rapat.

Baca juga: Contoh Teks Bacaan Soal, Mencari Kalimat dan Gagasan Utama

  • Kalimat majemuk yang menyatakan urutan peristiwa.

Dalam kalimat jenis ini, meski sudah memakai konjungsi sebagai penghubung antardasar kalimat, tetapi tetap dibutuhkan tanda koma sebagai pembatas. Kalimat ini menggunakan konjungsi yang menghubungan urutan peritiwa, seperti lalu, lantas, terus, dan kemudian.

Contoh kalimat majemuk yang menyatakan urutan peristiwa adalah:

  1. Saya tinggal di Bandung, lalu keluarga pindah ke Yogyakarta.
  2. Teman sekelas saya mengendarai motor tanpa mengenakan helm, lantas polisi lalu lintas menghentikan mereka.
  3. Kamu tuang putih telur dalam wadah, terus kamu kocok putih telur menggunakan mixer sampai mengembang.
  4. Saya membayar ongkos pada supir angkot, kemudian ia memberi uang kembalian dengan jumlah yang pas.

Baca juga: Cerpen: Sejarah, Ciri-ciri dan Jenis

  • Kalimat majemuk yang menyatakan pemilihan.

Jenis kalimat ini ditandai dengan kata penghubung atau. Hubungan pemilihan pada dua atau lebih kalimat dasar juga dapat ditunjukkan dengan kata apa(kah). Contoh:

  1. Dia ingin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler basket, atau kegiatan fisik lain yang bisa mengisi kekosongan aktivitas di akhir pekan.
  2. Buku baru yang kamu pesan sudah saya kirim, apakah paket sudah sampai di rumah?
  3. Kamu bebas memilih jurusan IPA, IPS, atau Bahasa.
  • Kalimat majemuk yang menyatakan pertentangan atau perlawanan.

Jenis kalimat ini menghubungkan satu kalimat dasar dengan kalimat dasar yang lain, meski berlainan atau bertentangan. Konjungsi atau kata penghubung yang biasa dipakai dalam kalimat jenis ini contohnya tetapi, melainkan, dan sedangkan. Contoh:

  1. Saya ingin kuliah jurusan seni rupa murni, tetapi orang tua tidak memiliki cukup uang untuk biaya kuliah.
  2. Perundungan di bawah umur bukan sepenuhnya salah anak-anak, melainkan orang tua memiliki tanggung jawab besar mendidik anak-anak mereka.
  3. Doni tekun mengerjakan tugas kelompok agar mendapat hasil terbaik, sedangkan Edwin bermain video game seharian tanpa membantu kami sedikitpun.

Baca juga: Novel: Pengertian, Unsur, dan Ciri-cirinya

Kalimat Majemuk Bertingkat

Jenis kalimat ini adalah kalimat yang mengandung satu kalimat dasar yang merupakan inti (utama) dan satu atau beberapa kalimat dasar yang berfungsi sebagai pengisi salah satu unsur kalimat inti itu.

Unsur kalimat yang dapat dialihfungsikan, seperti subyek, obyek, atau keterangan. Sehingga, yang membedakan kalimat majemuk bertingkat dengan kalimat jenis lain adalah keberadaan anak kalimat dan induk kalimat.

Induk kalimat memegang peranan sebagai kalimat dasar inti atau utama. Sedangkan anak kalimat menjadi pengisi salah satu unsur. Berdasarkan perannya, anak kalimat dibagi menjadi:

  • Anak kalimat keterangan waktu.

Anak kalimat ini dapat ditempatkan di posisi awal, akhir, di antara subyek dan predikat, bahkan di antara predikat dan obyek pada induk kalimat. Konjungsi yang digunakan yaitu ketika, waktu, kala, saat, sesaat, tatkala, sesudah, setelah, dan sebelum. Contoh:

  1. Ketika aku mengunjunginya di rumah sakit, dia sudah tiada.
  2. Ongkos angkutan umum ke rumah masih 300 rupiah, waktu aku duduk di Sekolah Dasar.
  3. Kala ibu dan ayah remaja, mereka sering bertamasya ke telaga.
  4. Kamu jangan lupa mengangkat gorengan tempe, saat warna tempe sudah kuning kecokelatan.
  5. Hakim mengetuk palu kencang sekali, semua hadirin dalam persidangan terdiam sesaat.
  6. Sesudah mencuci baju, Roni kembali mengerjakan tugas matematikanya.
  7. Setelah sekian lama aku menjadi penulis, akhirnya salah satu buku terbitanku menjadi best seller.
  8. Kedua pengantin itu mengucapkan janji setia, sebelum pendeta mempersilahkan bertukar cincin.

Baca juga: Perbedaan Novel, Cerpen, dan Roman

  • Anak kalimat keterangan sebab.

Jenis ini mempunyai sifat seperti anak kalimat keterangan waktu, tetapi menyatakan pertalian sebab. Ditandai dengan konjungsi karena, sebab, dan lantaran. Berikut contoh kalimatnya:

  1. Karena berlebihan konsumsi gula, nenek terkena diabetes.
  2. Dia mengurungkan niat membeli PS5, sebab uangnya hendak ia tabung.
  3. Lantaran harga tanah dan bangunan di ibu kota mahal, kaum milenial memilih kontrak rumah.
  • Anak kalimat keterangan akibat.

Jenis anak kalimat ini menyatakan pertalian akibat. Posisi anak kalimat selalu di akhir, setelah induk kalimat. Ditandai dengan konjungsi atau kata penghubung hingga, sehingga, maka, akibatnya, dan akhirnya. Berikut contoh kalimatnya:

  1. Hujan mengguyur kota ini semalaman, hingga sawah terendam air.
  2. Tengkulak membeli beras dengan harga murah, sehingga petani merugi.
  3. Media arus utama hanya menjadi corong politisi, maka mutu jurnalisme semakin bobrok.
  4. Pemerintah memberi izin untuk mengadakan kegiatan belajar tatap muka, akibatnya muncul klaster baru di sekolah.
  5. Aku tidak lagi merawat taman belakang rumah, akhirnya tumbuhan di taman banyak yang layu.

Baca juga: Struktur Teks Cerpen

  • Anak kalimat keterangan syarat.

Jenis anak kalimat yang menyatakan pertalian persyaratan. Ditandai dengan konjungsi jika, kalau, apabila, andaikata, dan andaikan. Anak kalimat ini dapat diletakkan di bagian mana saja dalam kalimat. Berikut contoh kalimatnya:

  1. Jika tidak ingin terlambat ke sekolah, aku harus bangun lebih awal.
  2. Pandemi segera berakhir, kalau semua orang mematuhi protokol sejak awal.
  3. Ayah tidak akan murka, apabila kamu jujur dari awal.
  4. Andaikata aku lolos masuk perguruan tinggi negeri, aku traktir teman sekelas.
  5. Ruang redaksi media di Indonesia akan lebih independen, andaikan perusahaan media tidak dipegang oleh politisi.
  • Anak kalimat keterangan tujuan.

Jenis anak kalimat yang menyatakan pertalian tujuan. Ditandai dengan konjungsi supaya, agar, untuk, dan guna. Berikut contoh kalimatnya:

  1. Dinda mengendarai sepedah dengan pelan, supaya telur ayam yang dibawanya tidak pecah.
  2. Agar tidak dehidrasi, kamu sebaiknya banyak minum air putih.
  3. Bos memasang baliho di jalan untuk meningkatkan target penjualan.
  4. Olah raga dengan teratur di rumah, guna menjaga kebugaran tubuh.

Baca juga: Hikayat: Pengertian, Karakteristik, Nilai, Ciri Kebahasaan dan Contoh

  • Anak kalimat keterangan cara.

Jenis anak kalimat ini menyatakan pertalian cara. Ditandai dengan konjungsi dengan dan dalam. Anak kalimat jenis ini dapat ditempatkan di bagian mana saja pada kalimat. Contoh:

  1. Dengan disahkannya UU Cipta Kerja, sejumlah pihak berpendapat bahwa hal itu menambah catatan buruk bagi pemerintahan Joko Widodo.
  2. Gugus tugas mengirim pesan pendek ke seluruh warga Indonesia, dalam rangka mencegah disinformasi terkait Covid-19.
  • Anak kalimat pengganti pewatas.

Jenis anak kalimat yang berfungsi menyertai nomina objek, subyek, maupun predikat. Anak kalima ini ditandai dengan konjungsi yang atau kata petunjuk itu. Berikut contohnya.

  1. Dia ketua OSIS baru, yang terpilih minggu lalu.
  2. Kami memilih berteduh di bangunan yang selalu dipenuhi lumut itu.

Baca juga: Karakteristik Hikayat

  • Anak kalimat pengganti nomina.

Jenis anak kalimat ini ditandai dengan konjungsi bahwa. Dapat menjadi subyek atau obyek dalam kalimat transitif. Contohnya sebagai berikut.

  1. Adik berjanji bahwa dia tidak akan mencuri mangga tetangga lagi.
  2. Kepala daerah memberi perintah, bahwa setiap rumah ibadah wajib menerapkan protokol keamanan yang ketat selama masih ada bahaya Covid-19.

Kalimat Majemuk Campuran

Kalimat jenis ini merupakan gabungan penggunaan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Contohnya sebagai berikut:

  1. Karena tidak pernah menyimak pelajaran di sekolah, Bobi mendapat nilai jelek dan harus tidak naik kelas.
  2. Setelah lulus dari pendidikan jenjang SMP, Rina harus memilih sekolah negeri atau swasta.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rumah Mbaru Niang, Rumah Adat di Kampung Wae Rebo NTT

Rumah Mbaru Niang, Rumah Adat di Kampung Wae Rebo NTT

Skola
Apa Itu Sudut Deklinasi?

Apa Itu Sudut Deklinasi?

Skola
Mengapa Kutub Magnet Selalu ke Arah Utara dan Selatan

Mengapa Kutub Magnet Selalu ke Arah Utara dan Selatan

Skola
Jenis dan Karakteristik Limbah Keras

Jenis dan Karakteristik Limbah Keras

Skola
Contoh Bahan-Bahan Konduktor, Isolator, dan Semikonduktor

Contoh Bahan-Bahan Konduktor, Isolator, dan Semikonduktor

Skola
Sikap Teladan dari Raden Ajeng Kartini

Sikap Teladan dari Raden Ajeng Kartini

Skola
Rumah Baileo, Rumah Adat Maluku

Rumah Baileo, Rumah Adat Maluku

Skola
Pidato: Pengertian, Tujuan, dan Jenisnya

Pidato: Pengertian, Tujuan, dan Jenisnya

Skola
Cara Menulis Teks Pidato

Cara Menulis Teks Pidato

Skola
Kemampuan Seorang Pemimpin dan Tugas-tugasnya

Kemampuan Seorang Pemimpin dan Tugas-tugasnya

Skola
Teknik Pukulan dalam Permainan Bulu Tangkis

Teknik Pukulan dalam Permainan Bulu Tangkis

Skola
Penyebab Keberagaman Ras

Penyebab Keberagaman Ras

Skola
Komponen Penunjang Komunikasi dalam Jaringan (Daring)

Komponen Penunjang Komunikasi dalam Jaringan (Daring)

Skola
Upaya Pemerintah dalam Melaksanakan Pembangunan Nasional

Upaya Pemerintah dalam Melaksanakan Pembangunan Nasional

Skola
Taneyan Lanjhang, Rumah Adat Masyarakat Madura

Taneyan Lanjhang, Rumah Adat Masyarakat Madura

Skola
komentar
Close Ads X