Kompas.com - 24/11/2020, 14:51 WIB
Peta Perang Mutah commons.wikishia.netPeta Perang Mutah

KOMPAS.com - Perang Mu’tah adalah peperangan kaum muslimin melawan pasukan kekaisaran Bizantium Romawi Timur. Perang Mu’tah berlangsung pada bulan Jumadil Awal 8 Hijriah atau 629 Masehi.

Perang Mu’tah berlangsung di daerah Mu’tah yang merupakan kawasan dataran rendah Balqa di Negeri Syam.

Pecahnya Perang Mu’tah dilatar belakangi oleh pembunuhan beberapa umat muslim yang dilakukan oleh penguasa wilayah Syam. Pada masa itu, Syam termasuk dalam wilayah dari Byzantium Romawi Timur.

Dalam buku Peperangan Rasulullah (2016) karya Ash-Shallabi dan Ali Muhammad,berikut merupakan pembunuhan yang dilakukan oleh penguasa daerah Syam kepada umat muslim:

  • Pembunuhan delegasi Rasulullah Al Harits bin Umar Al-Azadi dalam misi mengirimkan surat kepada gubernur Syam bernama Hanits bin Abi Syamr Al-Ghassani.
  • Pembunuhan terhadap belasan utusan Rasulullah dari Bani Sulaiman di daerah Dhat Al-Talh oleh para penguasa Syam

Baca juga: Perang Khandaq

Melihat perlakuan sewenang-wenang dari penguasa Syam dan Byzantium Romawi, Nabi Muhammad SAW berencana untuk melakukan serangan pertama kepada Byzantium Romawi.

Selain itu, penyerangan terhadap Byzantium Romawi ditujukan untuk penyebaran dan dakwah Islam di luar Jazirah Arab.

Keberadaan Byzantium Romawi merupakan gangguan yang besar bagi penyebaran agama Islam di kawasan Timur Tengah. Di daerah Syam, Byzantium Romawi menguasai jalur perjalanan utama yang menghubungkan Irak dan Mesir.

Serangan pertama

Dalam buku Sejarah Islam Klasik (2013) karya Susmihara dan Rahmat, Nabi Muhammad SAW mengirimkan 3.000 pasukan menuju daerah Mu’tah. Pasukan muslim dipimpin oleh tiga panglima besar yaitu Zaid bin Harits, Ja’far bin Abu Thalib dan Abdullah bin Rawahah.

Baca juga: Perang As Sawiq

Pasukan ini merupakan pasukan terbesar yang pernah dikirim Nabi Muhammad SAW dalam perang. Mendengar kabar tersebut, Kekaisaran Byzantium Romawi mengerahkan pasukan yang besar untuk menaklukan negeri Syam.

Heraklius sebagai kaisar tertinggi Byzantium Romawi menanggapi hal tersebut dengan menyiapkan sebesar 200.000 pasukan. Pasukan tersebut terdiri dari 100.000 tentara Byzantium Romawi dan 100.000 dari kaum musyrik Arab.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X