Kompas.com - 07/09/2020, 17:01 WIB
Panitia menunjukkan replika kitab Negarakertagama, Selasa (7/10/2014), dalam pameran Museum Masuk Kampus yang digelar oleh Museum Negeri Mpu Tantular, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, serta Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Kitab Negarakertagama mengajarkan bahwa pemimpin harus mengutamakan musyawarah, dekat dengan rakyat kecil, serta mampu melindungi, membawa ketenteraman, dan kesejahteraan rakyatnya. KOMPAS/DAHLIA IRAWATIPanitia menunjukkan replika kitab Negarakertagama, Selasa (7/10/2014), dalam pameran Museum Masuk Kampus yang digelar oleh Museum Negeri Mpu Tantular, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, serta Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Kitab Negarakertagama mengajarkan bahwa pemimpin harus mengutamakan musyawarah, dekat dengan rakyat kecil, serta mampu melindungi, membawa ketenteraman, dan kesejahteraan rakyatnya.

KOMPAS.com - Kerajaan Majapahit dianggap sebagai cikal bakal terbentuknya Indonesia.

Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya pada 1294. Pusatnya di selatan Sungai Brantas, Trowulan, Mojokerto.

Kemahsyuran Majapahit kala itu dibuktikan lewat beberapa peninggalan sejarah. Simak beberapa peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit!

Kitab (Kakawin) Negarakertagama

Perkembangan sastra di era Kerajaan Singasari dilanjutkan di masa Kerajaan Majapahit.

Salah satu peninggalan yang paling berharga yakni Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca.

Kitab Negarakertagama dikarang pada 1365 Masehi. Kitab ini berisi tentang sejarah dan perjalanan Kerajaan Majapahit.

Baca juga: Asal-usul Berdirinya Kerajaan Majapahit

Isinya menceritakan keadaan kota Majapahit, daerah kekuasaan, dan kebijakan-kebijakan raja.

Dilansir dari Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2 (1995), pendiri kerajaan sekaligus raja pertama, Raden Wijaya, adalah keturunan Kertanegara, raja terakhir Singasari.

Kerajaan Singasari runtuh akibat pemberontakan Bupati Gelanggelang (Madiun) Jayakatwang pada 1292 Masehi. Setelah Singasari runtuh, Raden Wijaya melarikan diri.

Namun ia akhirnya diterima oleh Raja Jayakatwang dan diperbolehkan membuka hutan di Trowulan untuk dijadikan desa.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X