Kompas.com - 27/08/2020, 11:30 WIB
Bonus demografi yang konon puncaknya akan kita nikmati pada tahun 2030 tidak akan berarti apa-apa jika tidak didominasi manusia Indonesia dengan kualifikasi khalifah. M LATIEF/KOMPAS.comBonus demografi yang konon puncaknya akan kita nikmati pada tahun 2030 tidak akan berarti apa-apa jika tidak didominasi manusia Indonesia dengan kualifikasi khalifah.
Penulis Ari Welianto
|

KOMPAS.com - Transisi demokrasi yang dialami suatu negara dimulai dengan jatuhnya angka kematian, sementara angka kelahiran relatif tetap.

Selama trasisi terjadi ledakan penduduk yang diikuti dengan rendahnya tingkat kematian.

Seiring dengan turunya angka kelahiran dan usia ledakan penduduk memasuki angkatan kerja maka terjadilah bonus demografi.

Apa itu bonus demografi?

Dalam situs Badan Pusat Statistik (BPS), beberapa definisi mengenai bonus demografi merujuk pada fenomena penambahan jumlah penduduk usia kerja yang membawa keuntungan bagi perekonomian.

Baca juga: Menko PMK: Indonesia Memasuki Fase Bonus Demografi, Pembangunan Manusia Harus Bagus

Bonus demografi didefinisikan sebagai sebuah penambahan penduduk pada kelompok usia kerja yang walaupun meningkatkan jumlah penduduk total dipandang sebagai sebuah keuntungan yang tidak terelakan.

Seorang ekonom Sri Moertiningih Adioetomo mengatakan bahwa pengertian bonus demografi adalah perubahan struktur umur penduduk karena penurunan kelahiran terus menerus.

Sehingga jumlah dan proporsi anak-anak mengecil. Peningkatan usia harapan hidup menyebabkan anak-anak menjadi dewasa usia kerja.

Era bonus demografi ditandai dengan ledakan penduduk usia kerja.

Ketika kualitas pekerja bagus, produktif dan berdaya saing maka bonus demografi membantu memicu pertumbuhan.

Namun, era penurunan fertilitas belum disertai dengan upaya peningkatan kualitas SDM. Sebanyak 60 persen angkatan kerja paling banter lulus sekolah tingkat SMP.

Baca juga: Hadapi Bonus Demografi Pekerja, Pengamat: Indonesia Butuh RUU Cipta Kerja 

Di mana tidak punya kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja. Soft skill juga kurang. Sehingga banyak yg tidak terserap di dunia kerja atau menganggur.

Bonus Demografi Indonesia

Dalam buku Memetik Bonus Demografi (2018) Bonus demografi sering diucapkan, perlu dipahami, belum tentu "dipetik".

Indonesia saat ini didominasi penduduk usia kerja yang berpotensi memberikan keuntungan ekonomi, yaitu bonus demografi dengan keuntungan besar pada tahun 2040 yang disebut jendela peluang (window of opportunity).

Ketika bonus demografi dicetuskan pada 2005, tingkat kelahiran menurun drastis, tetapi sejak tahun 2003-2012 stagnan tidak turun lagi.

Hal itu terjadi karena dampak panjang krisis monoter 1998 lalu. Itu mempengaruhi terbukanya jendela peluang, menjadi lebih panjang, dari 2030 menjadi 2040.

Baca juga: Bonus Demografi Belum Mampu Dorong Akselerasi Ekonomi RI, Mengapa?

Mundurnya bonus demografi peluang yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Itu harus dimulai sejak dini, bahkan sejak dalam kandung seribu hari kehidupan.

Harus dilakukan secara bertahap melalui life cycle approach, human capital development harus mampu menciptakan anak-anak siap kerja, sehat, cerdas, berdaya saing, berkarakter, dan produktif.

Tidak hanya itu tapi juga menguasai ketrampilan teknis dan soft skill.

Di era digital adaptive anak-anak harus mempunyai adaptive ability menghadapi perubahan yang sangat cepat.

Pemerintah dan dunia usaha harus mampu menciptakan lapangan kerja.

Bagaimana bonus demografi terjadi? 

Menurut BPS, perubahan struktur umur penduduk ini dapat terjadi karena adanya proses transisi demografi secara berkelanjutan dan berjangka panjang. 

Baca juga: Hadapi Bonus Demografi, Anak Perlu Dibekali Kemampuan Literasi

Mula-mula tingkat mortalitas harus diturunkan, melalui pelayanan kesehatan yang baik. Penurunan kematian bayi tidak langsung diikuti dengan penurunan fertilitas. 

Penurunan kematian bayi menyebabkan lebih banyak bayi yang survive, dapat terus hidup mencapai usia yang lebih tinggi. 

Setelah beberapa lama, tingkat fertilitas akhirnya akan menurun juga. Kalau sudah demikian, maka terjadi pergeseran distribusi penduduk menurut umur, yang menyebabkan menurunnya rasio ketergantungan penduduk usia non produktif dan penduduk usia produktif.  


Sumber BPS
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X