Kompas.com - 05/08/2020, 17:00 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan (kedua kanan) mengamati peta Gunung Merapi saat melakukan kunjungan di Pos Pengamatan Gunung Merapi, Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (12/12/2018). Dalam kunjungan itu Ignasius Jonan melihat secara langsung kondisi Gunung Merapi yang saat ini masih berstatus Waspada melalui Pos Pantau Gunung Merapi Kaliurang. ANTARA FOTO/ANDREAS FITRI ATMOKOMenteri ESDM Ignasius Jonan (kedua kanan) mengamati peta Gunung Merapi saat melakukan kunjungan di Pos Pengamatan Gunung Merapi, Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (12/12/2018). Dalam kunjungan itu Ignasius Jonan melihat secara langsung kondisi Gunung Merapi yang saat ini masih berstatus Waspada melalui Pos Pantau Gunung Merapi Kaliurang.
Penulis Ari Welianto
|

KOMPAS.com - Peta merupakan gambar atau lukisan pada kertas dan sebagainya yang menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung, dan sebagainya.

Dilansir dari Encyclopaedia Britannica (2015), peta adalah representasi grafik yang digambar dengan skala tertentu pada permukaan datar. Ada beberapa fitur, seperti geografis, geologis atau geopolitik dari area Bumi.

Peta merupakan alat bantu utama untuk menjelaskan keadaan suatu wilayah dan mencari informasi geografis.

Dalam peta dibedakan oleh beberapa jenis, salah satunya jenis peta berdasarkan bentuknya. Pada peta berdasarkan bentuknya terdapat beberapa jenis, salah satunya peta timbul (peta relief).

Peta timbul adalah peta yang dibuat menurut bentuk muka bumi sebenarnya. Peta timbul dibuat secara tiga dimensi.

Tiga dimensi tersebut mengandung unsur panjang, lebar, dan unsur tinggi.

Baca juga: Sejarah Peta, Awalnya Dibuat di Tanah

Sehingga gunung-gunung tampak menjulang, sedangkan dataran rendah dan lembah nampak di bawahnya.

Pada peta timbul memiliki warna dan permukaan yang timbul serta kontur-kontur yang jelas.

Garis kontur merupakan garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang punya ketinggian yang sama.

Contohnya itu seperti area pegunungan, sehinga permukaan peta akan tampak menjulang, kemudian warna laut, warna dataran rendah dan tinggi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Siapa Penemu Bahasa Inggris?

Siapa Penemu Bahasa Inggris?

Skola
Penyebutan Sate di Berbagai Negara

Penyebutan Sate di Berbagai Negara

Skola
Peran Penting Kecoak untuk Bumi

Peran Penting Kecoak untuk Bumi

Skola
Kenapa Tukang Cukur Kebanyakan Berasal dari Garut dan Madura?

Kenapa Tukang Cukur Kebanyakan Berasal dari Garut dan Madura?

Skola
Ngayau, Tradisi Turun-temurun dari Suku Dayak

Ngayau, Tradisi Turun-temurun dari Suku Dayak

Skola
Kisah Kepunahan Harimau Bali

Kisah Kepunahan Harimau Bali

Skola
Apakah Bangsa Viking Nyata?

Apakah Bangsa Viking Nyata?

Skola
Berapa Usia Matahari?

Berapa Usia Matahari?

Skola
Sampek, Alat Musik Tradisional Kalimantan Timur

Sampek, Alat Musik Tradisional Kalimantan Timur

Skola
Keunikan Alat Musik Fu, Maluku Utara

Keunikan Alat Musik Fu, Maluku Utara

Skola
Tifa, Alat Musik Daerah Papua

Tifa, Alat Musik Daerah Papua

Skola
Alat Musik Daerah Maluku

Alat Musik Daerah Maluku

Skola
Mengenal Alat Musik Daerah Gorontalo

Mengenal Alat Musik Daerah Gorontalo

Skola
Japen dan Garantung, Alat Musik Daerah Kalimantan Tengah

Japen dan Garantung, Alat Musik Daerah Kalimantan Tengah

Skola
Alat Musik Panting Khas Kalimantan Selatan

Alat Musik Panting Khas Kalimantan Selatan

Skola
komentar
Close Ads X