Lobster, dari Makanan Penjara sampai Hidangan Orang Kaya

Kompas.com - 11/07/2020, 17:49 WIB
Ilustrasi lobster shutterstock.comIlustrasi lobster

KOMPAS.com - Lobster adalah makanan laut yang memiliki harga cukup mahal. Biasanya orang yang bisa membeli makanan berbahan dasar Lobster merupakan kalangan elit.

Harga Lobster yang cukup mahal ini ternyata sempat menjadi makanan tahanan dan orang miskin. Bahkan sempat dijuluki "kecoak laut" karena tersebar di pinggir pantai wilayah Massachuset.

Dilansir dari situs History, Lobster memiliki sejarah yang cukup panjang sampai akhirnya bisa menjadi santapan mahal orang-orang berduit.

Lobster lambang kemiskinan

Pada awal abad ke-16, para pemukim Eropa pertama datang ke Amerika Utara. Di sana mereka mendapati banyak sekali lobster dan tumpukan lobstersetinggi dua kaki di daratan Teluk Massachusetts.

Pada saat itu, jumlah lobster cukup berlimpah. Sampai-sampai para pendatang mengonsumsi lobster sebagai makanan sehari-hari. Hingga mereka semua bosan dengan lobster.

Baca juga: Sejarah Sumpit, Asal-usulnya hingga Menjadi Ikon Kuliner Asia

Karena jumlah lobster terus meningkat dan daya tampung yang kurang, orang-orang pada zaman dahulu menyebut lobster sebagai kecoak laut.

Daya tampung yang kurang, menjadikan lobster sebagai pupuk dan umpan pancing. Lobster yang didapat kemudian dihancurkan, kemudian disebar di perkebunan mereka.

Selain itu, mencincang dagingnya kemudian dibuat sebagai umpan memancing di laut maupun sungai. Tak berhenti sampai disitu, banyak lobster yang kemudian menjadi santapan narapidana.

Lobster yang melimpah itu kemudian tidak ada harganya dan lobster dianggap sebagai simbol kemiskinan. Karena orang-orang tak perlu membeli untuk menikmati lobster. Kalaupun dijual dihargai dengan harga sangat murah. Di rumah orang-orang elit, lobster menjadi santapan pelayan-pelayan rumah.

Lobster menjadi mahal

Semua yang terjadi pada lobster kemudian berubah di pertengahan 1800-an karena perubahan teknologi, di antaranya makanan kaleng dan kereta api.

Saat itu makanan kaleng menjadi makanan yang cukup populer. Selain itu, perkembangan teknologi rel kereta sedang berkembang. Lobster yang melimpah itu kemudian dijadikan makanan kaleng dan dikirm ke Amerika Tengah.

Di waktu yang sama, penduduk Amerika Tengah mulai berkunjung ke New England untuk mencari lobster segar. Lobster segar ini kemudian menjadi primadona di kalangan turis.

Baca juga: Sejarah Tahu: Bukan dari Indonesia

Hal inilah yang membuat restoran mulai menyajikan hidangan lobster dan di akhir abad ke-18 harga lobster mulai naik. Bahkan pada masa Perang Dunia II, lobster sudah menjadi hasil laut yang mahal dan dikenal dengan makanan mewah.


Sumber History
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X