Keserakahan dan Kekejaman VOC

Kompas.com - 02/07/2020, 19:00 WIB
Kantor pusat VOC di Amsterdam. Dibangun pada 1606 dan dihancurkan pada 1891. Sekarang menjadi lokasi Bushuis. Amsterdam Monumenten - Oost-Indisch Huis (1606)Kantor pusat VOC di Amsterdam. Dibangun pada 1606 dan dihancurkan pada 1891. Sekarang menjadi lokasi Bushuis.

KOMPAS.com - Vereenigde Oost Indische Compagnie ( VOC) merupakan kongsi dagang Belanda yang didirikan di Amsterdam. Salah satu tujuan dari dibentuknya VOC adalah memperkuat kedudukan para pedagang Belanda menghadapi persaingan dengan pedagang negara lain.

VOC terus berusaha memperluas daerah-daerah di Nusantara sebagai wilayah kekuasaan dan monopolinya. VOC juga memandang bangsa-bangsa Eropa yang lain sebagai musuhnya.

Dalam buku Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004 (2005) karya MC Ricklefs, gubernur jenderal VOC pertama adalah Pieter Both (1602-1614) mulai menata organisasi kongsi dagang dan menempatkan monopoli perdagangan di Hindia Timur.

Peter Both pertama kali mendirikan pos perdagangan di Banten pada 1610. Kemudian meninggalkan Banten dan berhasil memasuki Jayakarta. Dirinya berhasil mengadakan perjanjian dengan penguasa Jayakarta.

Keberhasilan itu dapat dilihat dengan pembelian sebidang tanah seluar 50 x 50 vadem (satu vadem = 182 sentimeter) yang berlokasi di sebelah timur Muara Ciliwung.

Baca juga: Sejarah Berdirinya VOC

Tanah tersebut yang menjadi cikal bakal hunian dan daerah kekuasaan VOC di tanah Jawa dan menjadi cikal bakal Kota Batavia.

Keserakahan VOC

Kepemimpinan VOC sering berganti, hingga pemerintahan JP Coen yang terkenal sangat bernafsu untuk memaksakan monopoli. VOC kembali ke Jayakarta dan merebutnya.

Dirinya membumihanguskan Jayakarta dan mengganti namanya menjadi Batavia dan membangunnya dengan ciri khas Belanda. JP Coen juga dikenal sebagai peletak dasar penjajahan VOC di Indonesia.

Batavia memiliki posisi yang strategis. Batavia dijadikan markas besar VOC, di mana semua kebijakan dan tindakan VOC di kawasan Asia dikendalikan dari markas besar VOC di Batavia.

Batavia juga terletak di persimpangan atau menjadi penghubung jalur perdagangan internasional. Sehingga Batavia menjadi pusat perdagangan dan jalur yang menghubungkan perdagangan di Nusantara bagian barat dengan Nusantara bagian timur.

VOC semakin bernafsu dan menunjukkan keserakahannya untuk menguasai wilayah Nusantara yang kaya rempah-rempah. Berikut beberapa keserakahan VOC, di antaranya:

  • Membangun pusat perdagangan diberbagai daerah
  • Menguasai pelabuhan-pelabuhan dan mendirikan benteng untuk melaksanakan monopoli perdagangan.
  • Melaksanakan polituik devide et impera (memecah dan menguasai) dalam rangka untuk menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia.
  • Melaksanakan sepenuhnya Hak Octroi yang ditawarkan pemerintah Belanda.
  • Melaksanakan pelayaran Hongi (Hongi tochten)
  • Adanya hak ekstirpasi, yaitu hak untuk membinasakan tanaman rempah-rempah yang melebihi ketentuan.
  • Adanya verplichte leverantien (penyerahan wajib) dan prianger stelsel (sistem periangan).
  • Melakukan pembunuhan terhadap rakyat pribumi, orang-orang Tionghoa, maupun orang asing.
  • Melakukan kondolisasi kedudukan

Baca juga: Latar Belakang VOC Mampu Memonopoli Perdagangan Rempah-Rempah

Peta Kota Batavia yang diterbitkan oleh Homannischen Erben pada 1733 ini menampilkan Kota Batavia dengan tembok kota dan pertahanan bentengnya, juga ilustrasi tentang warganya.Rijksmuseum Amsterdam/Atlas of Mutual Heritage Peta Kota Batavia yang diterbitkan oleh Homannischen Erben pada 1733 ini menampilkan Kota Batavia dengan tembok kota dan pertahanan bentengnya, juga ilustrasi tentang warganya.
Kekejaman VOC

Disertai dengan sikap congkak dan tindakan yang kejam, JP Coen berusaha meningkatkan eksploitasi kekayaan bumi Nusantara untuk keuntungan pribadi dan negaranya.

Cara-cara kejam VOC untuk meningkatkan eksploitas kekayaan akam dilakukan sebagai berikut:

  • Merebut pasaran produksi pertanian, biasanya dengan memaksakan monopoli, seperti monopoli rempah-rempah di Maluku.
  • Tidak ikut aktif secara langsung dalam kegiatan produksi hasil pertanian. Cara produksi dibiarkan berada di tangan pribumi, namun hasilnya untuk VOC.
  • VOC selalu mengincar dan bersaha keras menduduki tempat-tempat yang memiliki posisi strategis. Caranya dengan kekerasan dan peperangan, serta melakukan politik adu domba.
  • VOC melakukan campur tangan (intervensi) terhadap kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama kerajaan yang mengumpulkan hasil bumi terbanyak.
  • Lembaga-lembaga pemerintahan tradisional massih dipertahankan dengan harapan bisa diperalat, jika tidak mau akan diperangi.

Cara-cara tersebut menjadi kebiasaan VOC dan pemerintah kolonial Belanda dalam melestarikan penjajahannya di Indonesia.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X