Kompas.com - 28/06/2020, 14:11 WIB
Momumen Mandor di jalan raya menuju Sanggau, 87 km timur Pontianak, Kalbar, menggambarkan keganasan Jepang terhadap rakyat Kalimantan sekitar tahun 1940-an. Momumen Mandor di jalan raya menuju Sanggau, 87 km timur Pontianak, Kalbar, menggambarkan keganasan Jepang terhadap rakyat Kalimantan sekitar tahun 1940-an.

KOMPAS.com - Tepat 76 tahun lalu hari ini, salah satu tragedi kemanusiaan terburuk di Indonesia terjadi.

28 Juni 1944, Jepang membantai ribuan orang Indonesia di Pontianak, Kalimantan Barat.

Pembantaian ini dilatarbelakangi desas-desus yang terdengar oleh Jepang.

Dilansir dari buku Peristiwa Mandor Berdarah (2009), Polisi Rahasia Kaigun atau Tokkeitai mendengar adanya persekongkolan pemberontakan melawan Jepang.

Pada masa itu, kebencian rakyat Indonesia terhadap Jepang memang memuncak. Selama pendudukan Jepang, rakyat dipaksa bekerja, disiksa jika tak menurut, kelaparan, hingga tak punya pakaian.

Baca juga: Kedatangan Jepang di Indonesia, Mengapa Disambut Gembira?

Di saat yang sama, Jepang membutuhkan simpati rakyat untuk mendukung perangnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Maka Jepang mendirikan Nissinkai, organisasi politik untuk menyalurkan ide-ide politik, yang tentunya tidak mengancam Jepang.

Tokoh politik, pengusaha, dan cendekiawan yang tergabung di antaranya JE Pattiasina (Kepala Urusan Umum Kantor Syuutizityo), Notosoedjono (tokoh Parindra), dan Ng Nyiap Sun (Kepala Urusan orang Asing/Kakyo Toseikatyo).

Para tokoh pergerakan ini diam-diam juga memiliki gerakan bawah tanah yang disebut Gerakan Enam Sembilan. Ini karena anggotanya berjumlah 69. Tidak diketahui pasti siapa saja 69 orang itu.

 

Kiri: Koran Borneo Sinbun tertanggal 1 Sitigatu 2604 (1 Juli 1944) menyebutkan bahwa pada 28 Juni 1944, Raja (Panembahan dan Sultan) serta kaum intelektual telah dieksekusi oleh Jepang. Kanan: Peta persebaran dokter alumni Stovia di Borneo (Kalimantan) pada 1926. Tampak di Kalimantan terdapat satu dokter di Ketapang dan satu dokter di Pontianak.ISTIMEWA Kiri: Koran Borneo Sinbun tertanggal 1 Sitigatu 2604 (1 Juli 1944) menyebutkan bahwa pada 28 Juni 1944, Raja (Panembahan dan Sultan) serta kaum intelektual telah dieksekusi oleh Jepang. Kanan: Peta persebaran dokter alumni Stovia di Borneo (Kalimantan) pada 1926. Tampak di Kalimantan terdapat satu dokter di Ketapang dan satu dokter di Pontianak.
Belum sempat melawan

Pada tahun 1943, pemberontakan terjadi, namun bukan di Kalimantan Barat melainkan Kalimantan Selatan.

Khawatir pemberontakan juga akan pecah di Kalimantan Barat, Jepang pun melakukan pencegahan.

Pada 23 Oktober 1943, Jepang menangkap para penguasa setempat, tokoh masyarakat, kaum terdidik dan terpelajar, dan menahannya di markas Tokkeitai.

Konferensi Nissinkai yang digelar pada 24 Mei 1944 bahkan berubah jadi penangkapan besar-besaran. Para tokoh Nissinkai diciduk, kerabat dan keluarga yang diduga terlibat juga dijemput.

Puncaknya pada 28 Juni 1944, sidang kilat dilaksanakan untuk mengadili mereka yang ditangkap.

Baca juga: Politik Jepang Menarik Simpati Bangsa Indonesia

Peristiwa ini dikenal dengan istilah "Penyungkupan". Mereka diciduk, tangan diikat ke belakang dan wajah ditutup.

Kemudian mereka digiring ke tempat yang tidak diketahui, dan dihabisi dengan pedang atau diberondong tembakan.

Penangkapan dan pembantaian ini diyakini hanya tuduhan yang diada-adakan Jepang untuk meredam pergerakan.

Surat kabar Pemerintah Balatentara Jepang, Borneo Sinbun memberitakan pembantaian ini pada 1 Juli 1944.

Halaman pertama membuat berita utama "Komplotan Besar yang Mendurhaka untuk Melawan Dai Nippon Sudah Dibongkar Sampai ke Akar-akarnya."

Berita di bawahnya berjudul, "Kepala-kepala Komplotan serta Lain-lainnya Ditembak Mati. Keamanan di Borneo Barat Tenang Kembali dengan Sempurna."

Tidak disebutkan di mana eksekusi dilakukan atau di mana jenazah dimakamkan.

 

Relief pada Monumen Makam Juang Mandor yang berada di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, menggambarkan perlawanan rakyat terhadap penjajah Jepang. Peristiwa pembantaian massal yang dilakukan penjajah Jepang pada tahun 1943-1944 terhadap puluhan ribu rakyat Kalbar ini dikenal dengan Tragedi Mandor Berdarah. Tampak beberapa foto tokoh yang turut menjadi korban pembunuhan oleh tentara Jepang. Relief pada Monumen Makam Juang Mandor yang berada di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, menggambarkan perlawanan rakyat terhadap penjajah Jepang. Peristiwa pembantaian massal yang dilakukan penjajah Jepang pada tahun 1943-1944 terhadap puluhan ribu rakyat Kalbar ini dikenal dengan Tragedi Mandor Berdarah. Tampak beberapa foto tokoh yang turut menjadi korban pembunuhan oleh tentara Jepang.
Hilangnya generasi terbaik Kalimantan Barat

Pembantaian terhadap rakyat Kalimantan Barat tak berhenti di situ. Dari 1941 hingga 1945, tercatat ribuan rakyat Kalimantan Barat dilenyapkan.

Yang paling menyedihkan, akibat pembantaian yang dilakukan Jepang, Kalimantan Barat kehilangan satu generasi terbaiknya.

Mereka adalah bangsawan, tokoh-tokoh politik, kaum terdidik dan terpelajar, dan hartawan dari lintas etnis dan agama.

Kiyotada Takahashi, Presiden Marutaka House Kogyo Co. Ltd yang pernag bertugas sebagai opsir balatentara Jepang di Kalimantan Barat menyebut jumlah korban mencapai angka 21.037.

Baca juga: Akibat Pendudukan Jepang di Bidang Sosial Budaya

Sementara Yamamoti, seorang kepala kempeitai atau polisi militer Jepang di Kalimantan Barat mengatakan jumlah korban mencapai 50.000 orang.

Pinggiran Kota Mandor, sebuah wilayah kecil yang berjarak sekitar 88 kilometer dari Kota Pontianak, belakangan diketahui sebagai salah satu tempat korban dikubur massal.

Sejak tahun 1973, ziarah rutin digelar Pemda Kalimantan Barat ke Mandor. Di sana dibangun monumen. Tanggal 28 Juni pun diperingati sebagai Hari Berkabung Kalimantan Barat.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.