Perjuangan Jenderal Sudirman, Materi Belajar dari Rumah TVRI 14 Mei

Kompas.com - 14/05/2020, 07:00 WIB
Tangkapan layar program Belajar dari Rumah TVRI Kelas 4-6 SD 14 Mei 2020 tentang Perjuangan Jenderal Sudirman. KOMPAS.com/Arum Sutrisni PutriTangkapan layar program Belajar dari Rumah TVRI Kelas 4-6 SD 14 Mei 2020 tentang Perjuangan Jenderal Sudirman.

KOMPAS.com - Perjuangan Jenderal Sudirman adalah tema program Belajar dari Rumah TVRI kelas 4-6 SD pada 14 Mei 2020. Berikut ini ringkasan materinya:

Jejak-jejak perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman

Yogyakarta adalah ibukota perjuangan. Hampir di setiap sudut kota Jogja masih dapat ditemukan bukti-bukti pada masa perjuangan. Mulai dari bangunan hingga benda-benda bersejarah sebagai saksi perjuangan.

Bukti yang meyakinkan adalah Yogyakarta pernah menjadi ibukota Republik Indonesia. Saat itu Belanda melancarkan Agresi Militer ke-2 hingga dicetuskan perang gerilya dan Serangan Umum 1 Maret 1949. Perang gerilya tidak lepas dari peran Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Jendral Sudirman adalah tokoh kemerdekaan yang lahir pada 24 Januari 1916 di Bodas, Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah. Ayah Sudirman adalah pekerja pabrik gula di Kalibagor yang bernama Karsit Kartowiraji dan ibu bernama Siyem yang masih keturunan wedana dari Rembang. Pada usia 8 tahun, Sudirman kecil diangkat anak oleh Raden Cokro Sumonaryo seorang asisten wedana di Rembang.

Sudirman menempuh pendidikan di Holland Indieschool (HIS) atau sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda di Purworejo. Setelah lulus melanjutkan sekolah ke Taman Siswa lalu menempuh sekolah guru di HIK Muhammadiyah Surakarta. Meski tidak lulus, Sudirman menjadi guru HIS Muhammadiyah di Cilacap.

Karir kemiliteran dimulai pada 1943, saat itu Sudirman menjadi anggota Pembela Tanah Air (Peta). Setelah selesai pelatihan di Bogor, Sudirman mendapatkan pangkat shodanco dan menjadi komandan batalyon peta di Kroya Jawa Tengah.

Setelah Indonesia merdeka Sudirman bergabung menjadi tentara keamanan rakyat atau TKR. Saat menjadi anggota TKR Sudirman berhasil merebut senjata pasukan Jepang dalam pertempuran di Banyumas, Jawa Tengah.

Karena kepiawaiannya dalam bidang militer Sudirman diangkat sebagai Panglima Divisi 5 TKR dengan pangkat kolonel. Perang besar pertama yang dipimpin Sudirman adalah perang melawan tentara Inggris dan NICA Belanda pada November-Desember 1945 yang dikenal sebagai pertempuran Palagan Ambarawa. Pertempuran berakhir dengan kemenangan.

Atas berbagai prestasi militernya, pada 18 Desember 1945 Sudirman dilantik menjadi jenderal oleh Presiden Soekarno. Seiring perkembangan TKR menjadi TNI Sudirman dilantik menjadi Panglima Besar bersama pucuk TNI lainnya di Gedung Agung Yogyakarta pada 28 Juni 1947.

Sejarawan, Darto Harnoko menjelaskan, pada masa Agresi Militer Belanda ke-2 atau masa perang kemerdekaan ke-2 ketika masuknya tentara Belanda pada 19 Desember 1948 Sudirman memberikan pernyataan penting saat bertemu Soekarno. Soekarno meminta Suridman yang sakit istirahat saja. Sudirman menolak sebab ingin bersatu dengan rakyat. Karena sesuai ucapannya, Sudirman harus bergabung dengan rakyat menentukan kemerdekaan Indonesia.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X