Kompas.com - 07/05/2020, 08:00 WIB
Sidharta Gautama shutterstockSidharta Gautama
Penulis Ari Welianto
|

KOMPAS.com - Agama Buddha atau Buddhisme adalah salah satu agama di dunia. Di mana sudah ada sejak ribuan tahun lalu yang berasal dari India.

Membahas mengenai Agama Buddha tidak dapat lepas dari sosok Siddharta Gautama yang merupakan pendiri dan penyebar Agama Buddha.

Tahukah Kamu Siddharta Gautama?

Siddharta Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang merupakan pendiri agama Buddha. Siddharta dikenal sebagai Shakyamuni (orang bijak kaum Sakya) dan sebagai sang Tathagata.

Baca juga: Memaknai Pangkas Rambut dari Sejarah Siddharta Gautama...

Kelahiran

Buddha Gautama dilahirkan nama Siddharta Gautama yang lahir di Taman Lumbini di kaki Gunung Himalaya, India bagian Utara pada 623 masehi.

Nama Siddharta berasal dari bahasa Sansekerta yang berati orang yang mencapai segala cita-citanya. Sedangkan Gautama berasal dari leluhur yang merupakan guru terkenal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam buku Guru Agung Buddha Gautama (2012) karya Dion P. Sihotang, Siddharta merupakan putra raja dan disebut sebagai Pangeran.

Ayah Siddharta bernama Siddhodana yang berasal dari suku Sakya, anggota dari Kelas Khasatria adalah seorang raja di Kota Kapilavastu Jambuduipa. Sementara ibunya bernama Mahamaya.

Saat Siddharta lahi, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat.

Arus tersebut membasuh tubuh Siddharta. Siddharta lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai.

Masa kecil

Sejak kecil Siddharta Gautama adalah anak yang cerdas dan sangat pandai.

Pada usia 7 tahun, Siddharta memiliki tiga kolam bunga teratai, yakni kolam bunga teratai berwarna biru (uppala), kolam bunga teratai berwarna merah (paduma), dan kolam bunga teratai berwarna putih (pundarika).

Baca juga: Lalitavistara: Kisah Kelahiran Sang Buddha

Pada usia itu, Siddharta sudah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan denga baik. Pada usia 16 tahun, Siddharta menikah dengan Putri Yasodhara.

Pada usia itu juga, Pangeran Siddharta memiliki tiga istana, yakni, Istana Musim Dingin (Ramma) Istana Musim Panas (Suramma), dan Istana Musim Hujan (Subha).

Sudah diramalkan

Saat Siddharta lahir, ayahnya bertanya kepada peramal bernama Asita mengenai masa depannya. Sang peramal merasa terpesona ketika melihat Siddarta.

Peramal melihat 32 tanda pada tubuh sang bayi yang merupakan pertanda tentang kehidupan yang agung di masa depan.

Peramal mengatakan kepada raja bahwa anak itu mungkin akan menjadi pemimpin yang sangat hebat.

Mungkin juga menjadi Chakrawarti (maharaja) seluruh India, kalau saja anak tersebut menguasai kearifan mengenai cara-cara duniawi.

Sedangkan anak tersebut bisa menjalani kehidupan religius, maka tanda yang sama juga memperlihatkan bahwa akan dengan mudah menjadi pertama yang mulia.

Baca juga: Ini Pesan Kemenag untuk Umat Buddha di Tengah Wabah Covid-19

Ketika hal itu dihubungkan dengan keturunannya yang mulia, maka mungkin bisa menjadi penyelamat dunia.

Peramal juga menyatakan penyesalannya bahwa anak tersebut tidak akan bisa hidup cukup lama untuk mendapatkan manfaat dari kebijaksanaan penuh yang tumbuh dalam diri anak yang agung ini.

Kata-kata peramal membuat Raja Siddhodana merasa was-was dan tidak tenang. Raja khawatir jika Sidhdharta akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa.

Raja lebih memilih anaknya untuk mewarisi kekuasaannya sebagai raja, bukannya menjadi pertapa.

Menjadi Buddha

Patung Buddha di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT Patung Buddha di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Ada empat hal yang tidak boleh dilihat oleh Pangeran Siddharta Gautama, yakni orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa. Bila tidak, Siddharta akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha.

Pada suatu hari, Siddharta minta ijin untuk berjalan keluar istana. Di jalanan Kapilavasta menemukan empat kondisi yang berati, yakni orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa.

Ia merasa sedih dan bertanya pada diri sendiri. Tidak ada hal yang mempersiapkan untuk pengalaman semacam itu selama hidupnya. Ia berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban itu.

Baca juga: Kementerian Agama Imbau Umat Buddha Rayakan Waisak dari Rumah 

Pada usia 29 tahun, Siddharta memutuskan meninggalkan istana, istri dan anaknya yang baru lahir.

Ia pergi untuk menjadi seorang pertapa yang bertujuan menemukan cara buat menghilangkan penderitaan atau membebaskan manusia dari usia tua, sakit, dan mati.

Perjuangan Siddharta dalam memaknai kehidupan dan mengupayakan terciptanya bangunan spiritualitas yang paripurna merupakan perjuangan yang berangkat dari hati nurani dan akal budi.

Siddharta, kemudian bermeditasi menggunakan berbagai guru spiritual yang membimbingnya. Ia bermediasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan penerangan Agung.

Penderitaan Siddharta ketika meninggalkan untuk hidup dan belajar bersama para pertapa Hindu, merupakan suatu petualangan spiritual yang menakjubkan.

Setelah enam tahun, konon beliau mendapatkan kenyataan bahwa bertapa dengan menyiksa diri maupun hidup terlalu berfoya-foya.

Bukanlah jawaban akan sesuatu hal yang mampu melampaui penderitaan dan karma.

Baca juga: Yayasan Sosial Umat Buddha Siapkan Peti Gratis untuk Jenazah Pasien Covid-19 di Kota Bekasi 

Pemikiran seperti itu dianggap menyimpang dari aliran Hindu pada masa itu. Sehingga ia pun mengembaran ke sebelah selatan India untuk mencari prinsip-prinsip spiritual yang dapat membentuk fondasi Buddhisme.

Pada akhirnya di bawah pohon Bodhi, ia memperoleh apa yang dicita-citakannya, yakni ajaran tentang sebab akibat penderitaan dan cara-cara mendapatkan kelepasan yang tersimpul dalam pandangan filosofis.

Pertapa Siddharta telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Siddhi di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun.

Saat mencapai pencerahan sempurna, tubuh Siddharta memancar enam sinar Buddha dengan warna biru (nila) yang berarti bhakti, kuning (pita) yang berarti kebijaksanaan dan pengetahuan.

Warna merah (lohita) yang berarti kasih sayang dan belas kasih, putih (Avadata) mengandung arti suci, jingga (mangasta) berarti semangat, dan dan campuran sinar tersebut (prabhasvara).

Penyebaran ajaran Buddha

Sejumlah Umat Buddha menata bunga altar di Candi Sewu, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (18/5/2019). Pesiapan tersebut dilakukan untuk menyambut rangkaian detik-detik hari raya Waisak 2563 BE/2019.ANTARA FOTO/ALOYSIUS JAROT NUGROHO Sejumlah Umat Buddha menata bunga altar di Candi Sewu, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (18/5/2019). Pesiapan tersebut dilakukan untuk menyambut rangkaian detik-detik hari raya Waisak 2563 BE/2019.
Buddha Gautama mendapat gelar setelah mencapai pencerahan sempurna, seperti Buddha Gautama, Sakyamuni, Tathagata (Ia Yang Telah Datang, Ia Yang Telah Pergi), Sugata (Yang Maha Tahu), Bhagava (Yang Agung).

Baca juga: Cegah Covid-19, Yayasan Tzu Chi Imbau Umat Buddha Ibadah dari Rumah

Setelah itu sang Buddha menyampaikan khotbah pertamanya di Taman Rusa, Isipatan, Sarnath kepada lima pertama yang dulu menjadi rekan saat bertapa menyiksa diri.

Selama 45 tahun, ia menyampaikan khotbahnya demi kebahagiaan umat manusia hingga memasuki Maha Pari-Nibbana di Kusinara pada usia 80 tahun.

Ia menyadari bahwa tiga bulan setelahnya akan mencapai Parinibbana atau Parinirvana yaitu meninggalkan bentuk fisik tubuhnya.

Isi khotbahnya adalah penjelasan mengenai Jalan Tengah yang ditemukannya, yaitu berupa Delapan Ruas Jalan Kemuliaan dan juga Empat Kebenaran Mulia yang menjadi pilar dari ajaran Buddha.

Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015), Buddha adalah salah satu dari banyak julukan seorang guru yang tinggal di India utara sekitar abad ke-6 dan ke-4 sebelum era Bersama.

Para pengikutnya, yang dikenal sebagai umat Buddha, menyebarkan agama yang sekarang dikenal sebagai agama Buddha.

Gelar buddha digunakan oleh sejumlah kelompok agama di India kuno dan memiliki banyak makna.

Tetapi kemudian dikaitkan dengan sangat kuat dengan tradisi agama Buddha dan berarti makhluk yang tercerahkan, orang yang telah terbangun dari tidurnya ketidaktahuan dan mencapai kebebasan dari penderitaan. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.