Maria Walanda Maramis, Tokoh Emansipasi dari Minahasa

Kompas.com - 21/04/2020, 13:22 WIB
Maria Walanda Maramis Wikimedia CommonsMaria Walanda Maramis

 

Diam-diam, Maria berkeliling dari kolong rumah panggung ke kolong rumah panggung yang lain untuk mendidik para perempuan menyulam, memasak, hingga membuat kue.

Ia mempelajari banyak hal dari Ibu Ten Hove.

Pada masa itu, keterampilan menjadi modal berharga di tengah keterbatasan akses pendidikan.

Maria pun mendorong para perempuan yang sudah mahir untuk berbagi keterampilan kepada sesama.

Mendirikan PIKAT

Larangan dan tekanan dari Belanda tak membuat Maria gentar. Maria mendirikan organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) tahun 1917 di Manado.

Berkat kepiawaiannya melobi, Walanda mendapat pinjaman rumah dari pedagang Belanda, A Bollegraf, untuk membuka sekolah rumah tangga, setahun kemudian.

Baca juga: Mengenalkan Sosok Kartini melalui Komik Digital Pejuang Emansipasi Perempuan

Sekolah ini menampung gadis-gadis pribumi tamatan sekolah rendah dari berbagai kalangan.

Gerakan Maria mendapat dukungan dari banyak pihak. Berkat kerja kerasnya, PIKAT membuka cabang hingga ke Kalimantan dan Jawa.

Kegiatan organisasi diperkenalkan ke masyarakat melalui karangan-karangan yang dimuat dalam surat kabar.

Kiprah tersebut membuatnya semakin diperhitungkan Belanda.

Pada 1920, Gubernur Jenderal Belanda mengunjungi Sekolah PIKAT dan memberi sumbangan uang.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X