Kompas.com - 26/02/2020, 15:30 WIB
Puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Mamasa menggelar aksi unjuk rasa di gedung DPRD Mamasa Sulawesi Barat, Selasa (13/6). Mereka menolak penggunaan isu SARA seperti agama dan suku di Mamasa karena khawatirkan menimbulkan konflik perpecahan di tengah masyarakat. KOMPAS.comPuluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Mamasa menggelar aksi unjuk rasa di gedung DPRD Mamasa Sulawesi Barat, Selasa (13/6). Mereka menolak penggunaan isu SARA seperti agama dan suku di Mamasa karena khawatirkan menimbulkan konflik perpecahan di tengah masyarakat.

KOMPAS.com - Pembahasan mengenai integrasi pasti tidak lepas dari disintegrasi. Tahukah kamu apa makna disintegrasi?

Disintegrasi bangsa

Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, bila integrasi berarti penyatuan maka kebalikannya, disintegrasi adalah ketidakpaduan.

Integrasi adalah penyatuan, keterpaduan antara elemen atau unsur yang ada di dalamnya. Sedangkan disintegrasi adalah ketidakpaduan, keterpecahan di antara unsur-unsur yang ada.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disintegrasi adalah keadaan tidak bersatu padu; keadaan terpecah belah; hilangnya keutuhan atau persatuan; perpecahan.

Jika integrasi menimbulkan dampak berupa konsensus maka disintegrasi dapat menimbulkan konflik atau perseteruan dan pertentangan.

Disintegrasi bangsa adalah memudarnya kesatupaduan antargolongan dan kelompok yang ada dalam suatu bangsa yang bersangkutan.

Gejala disintegrasi merupakan sesuatu hal yang dapat terjadi di masyarakat.

Baca juga: Integrasi Nasional: Pengertian, Faktor Pembentuk dan Penghambat

Faktor pemicu disintegrasi

Dikutip dari Integrasi dan Disintegrasi Dalam Perspektif Budaya (2003) berdasarkan hasil penelitian, pluralisme masyarakat di Indonesia menjadi ganjalan bagi proses integrasi nasional.

Permasalahan utama dalam proses integrasi masyarakat majemuk bukan terletak pada kemajemukannya atau perbedaan faktor kebudayaan tetapi pada faktor ekonomi dan politik.

Sektor ekonomi dan politik lebih berpotensi besar menjadi pemicu berlangsungnya konflik dalam masyarakat majemuk, baik antaragama, suku bangsa, daerah maupun antara golongan minoritas dan golongan mayoritas.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X