Kompas.com - 22/02/2020, 09:00 WIB
Pengunjung menerbangkan lampion perdamaian saat perayaan Waisak 2563 BE/2019 di Taman Lubini, Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (19/5/2019). Pelepasan ribuan lampion itu merupakan simbol perdamaian serta menjadi rangkaian perayaan Tri Suci Waisak. ANTARA FOTO/ANDREAS FITRI ATMOKOPengunjung menerbangkan lampion perdamaian saat perayaan Waisak 2563 BE/2019 di Taman Lubini, Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (19/5/2019). Pelepasan ribuan lampion itu merupakan simbol perdamaian serta menjadi rangkaian perayaan Tri Suci Waisak.

KOMPAS.com - Candi Borobudur merupakan candi berteras dan melambangkan alam raya.

Banyak yang menilai Candi Borobudur merupakan kesaksian pertama tentang bagaimana orang-orang Jawa sanggup mengambil alih agama asing untuk diabadikan demi kepentingan diri sendiri.

Dengan kemegahannya, ternyata Candi Borobudur tidak masuk ke dalam Tujuh Keajaiban Dunia.

Penilaian subyektif

Dilansir dari Encyclopaedia Britannica, munculnya 7 Keajaiban Dunia atau New 7 Wonders of the World dimulai dari yayasan dari Swiss.

Yayasan tersebut bernama New Open World Corporation (NOWC) yang memulai survei pada 2000. Di mana NOWC saat itu tidak memasukkan Candi Borobudur dalam Antipater Sidon.

Versi Antipater Sidon yang saat itu masuk menjadi populer adalah Piramida Giza, Taman Gantung Babilonia, Patung Zeus di Limpia, Kuil Artemis Turki, Mercusuar Iskandariah, dan Mausoleum.

Baca juga: Tujuh Keajaiban Dunia, Ke Mana Borobudur?

Kemudian NOWC menyebarkan kampanye untuk menentukan New 7 Wonders of the World dan didukung lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia.

Pengambilan survei atau polling dilakukan dengan online dan diumumkan pada 2007. Seperti yang sudah diketahui, hasil poliing tersebut menuai banyak kritik.

Pasalnya keajaiban dunia yang diperkenalkan NOWC hanya beberapa tempat yang populer dan banyak diketahui oleh banyak orang.

Hal tersebut membuat UNESCO mengambil sikap tegas. Dilansir dari situsnya, UNESCO memilih untuk tidak ikut campur dalam hal apa pun.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Devils Hole Pupfish, Ikan Kecil Penghuni Death Valley

Devils Hole Pupfish, Ikan Kecil Penghuni Death Valley

Skola
Siapa dan Bagaimana Kamus Dibuat?

Siapa dan Bagaimana Kamus Dibuat?

Skola
Apakah Kraken Si Monster Laut Benar Ada di Dunia Nyata?

Apakah Kraken Si Monster Laut Benar Ada di Dunia Nyata?

Skola
Bukan Korsel, Inilah Negara dengan Operasi Plastik Tertinggi di Dunia

Bukan Korsel, Inilah Negara dengan Operasi Plastik Tertinggi di Dunia

Skola
Sheepshead, Ikan Bergigi Manusia

Sheepshead, Ikan Bergigi Manusia

Skola
Pyrosome si Unikron Laut

Pyrosome si Unikron Laut

Skola
5 Tempat di Dunia yang Jarang Tersentuh Sinar Matahari

5 Tempat di Dunia yang Jarang Tersentuh Sinar Matahari

Skola
Mata Uang Tertua di Dunia

Mata Uang Tertua di Dunia

Skola
Siapa Penemu Bahasa Inggris?

Siapa Penemu Bahasa Inggris?

Skola
Penyebutan Sate di Berbagai Negara

Penyebutan Sate di Berbagai Negara

Skola
Peran Penting Kecoak untuk Bumi

Peran Penting Kecoak untuk Bumi

Skola
Kenapa Tukang Cukur Kebanyakan Berasal dari Garut dan Madura?

Kenapa Tukang Cukur Kebanyakan Berasal dari Garut dan Madura?

Skola
Ngayau, Tradisi Turun-temurun dari Suku Dayak

Ngayau, Tradisi Turun-temurun dari Suku Dayak

Skola
Kisah Kepunahan Harimau Bali

Kisah Kepunahan Harimau Bali

Skola
Apakah Bangsa Viking Nyata?

Apakah Bangsa Viking Nyata?

Skola
komentar
Close Ads X