Kompas.com - 16/01/2020, 10:00 WIB
Pemberontakan di surabaya sebagai reaksi ultimatum brigjen Malaby dari tentara Inggris pada tgl. 10 November 1945 Dok. KompasPemberontakan di surabaya sebagai reaksi ultimatum brigjen Malaby dari tentara Inggris pada tgl. 10 November 1945
Penulis Ari Welianto
|

KOMPAS.com - Pertempuran Surabaya merupakan pertempuran pertama bangsa Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945.

Pertempuran Surabaya puncaknya terjadi pada 10 November 1945. Ini merupakan salah satu peristiwa heroik bagi bangsa Indonesia.

Sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan para pahlawan dan pejuang dalam merebut kemerdekaan. Setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Baca juga: Jadi Pemicu Perang Surabaya, Siapa yang Tewaskan Jenderal Mallaby?

Sejarah

Pertempuran di Surabaya dilatarbelakangi oleh kedatangan pasukan sekutu yang tergabung dalam Allied Forces Netherland East Indies (NICA) pada 25 Oktober 1945 atau dua bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Pasukan sekutu yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sother Mallaby langsung masuk ke Kota Surabaya dan mendirikan pos-pos pertahanan.

Dilansir situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), kedatangan pasukan sekutu awalnya untuk mengamankan tawanan perang, melucuti senjata Jepang, atau menjaga ketertiban di berbagai daerah di Indonesia salah satunya Surabaya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, kenyataannya pasukan sekutu yang kebanyakan pasukan Inggris menyimpang. Pada 27 Oktober 1945, pasukan sekutu menyerbu penjara membebaskan tawanan perwira sekutu yang ditahan Indonesia.

Pasukan sekutu juga menduduki tempat-tempat vital. Seperti lapangan terbang, kantor radio, radio Surabaya, gedung internatio, dan pusat kereta api.

Pasukan sekutu menyebarkan famplet yang isinya agar masyarakat menyerahkan senjata yang dimilikinya. Namun masyarakat Surabaya menolak, apalagi harus mengangkat tangan.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Pertempuran 10 November dan Berbagai Pemicunya

Menyerang sekutu

Kondisi itu membuat masyarakat Surabaya marah dan semakin anti sekutu. Pada 28 Oktober 1945, pejuang Indonesia menyerang pos pertahanan.

Aspirasi perlawanan terhadap sekutu dikumandangkan oleh Bung Tomo menggunakan radio. Dia, dengan berapi-api memberikan semangat kepada masyarakat untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pada 28 Oktober 1945, para pemuda Surabaya bersemangat untuk mengusir sekutu dan mempertahankan kedaulatan. Dengan penuh semangat, akhirnya masyarakat Surabaya mampu merebut tempat-tempat vital.

Sempat ada perundingan antara Pemerintah Indonesia yang diwakili Preside Soekarno, Moh Hatta dan Amir Syarifuddin dan sekutu, tapi pertempuran tetap terjadi.

Pada 31 Oktober 1945, Brigader Mallaby tewas dan menyulut kemarahan pihak sekutu. Pihak sekutu memperingatkan masyarakat Surabaya untuk menyerah, jika tidak akan dihancurkan.

Namun masyarakat Surabaya tidak mau memenuhi tuntutan pihak sekutu.

Baca juga: Tentara Tionghoa Indonesia Saat Agresi Surabaya 10 November 1945

Puncak perang Surabaya

Puncak pertempuran Surabaya terjadi pada 10 November 1945. Pasukan sekutu melakukan penyerangan di Kota Surabaya dan pejuang Indonesia tidak gentar malah bersemangat berjuang.

Dalam menghadapi sekutu, senjatan yang dipakai pejuang tidak hanya senjata tapi juga bambu runcing. Tak sedikit pejuang Indonesia gugur dalam pertempuran tersebut mencapai 20.000 orang, sementara dari pihak sekutu mencapai 1.500 orang.

Pertempuran terakhir terjadi pada 28 November 1945. Semangat para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan membuat Presiden Soekarno menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Ini ditetapkan melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. 

Diberitakan Kompas.com (9/11/2018), pertempuran di Surabaya tersebut berlangsung selama tiga minggu. Kerugian jiwa di pihak Indonesia cukup banyak dan mencapai ribuan.

Penduduk banyak mengungsi meninggalkan Kota Surabaya. Selain itu banyak bangunan-bangunan rusak dan hancur.

(Sumber: Kompas.com/Aswab Nanda Pratama | Editor: Bayu Galih)


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X