Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wabah Misterius Akibatkan Bulu Babi di Dunia Nyaris Punah

Kompas.com - 11/06/2024, 15:00 WIB
Monika Novena,
Resa Eka Ayu Sartika

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah studi baru menunjukkan wabah bulu babi yang misterius telah menyebar ke seluruh dunia.

Hal tersebut mengkibatkan hampir punahnya mahluk itu di beberapa daerah serta mengancam ekosistem terumbu karang yang rentan.

Baca juga: Fosil Duri Bulu Babi Ungkap Kondisi Laut Dalam 100 Juta Tahun Lalu

Dikutip dari Independent, Senin (3/5/2024), studi tersebut menemukan bahwa populalsi dua spesies bulu babi yaitu Diadema setosum yang memiliki duri panjang dan Echinothrix calamaris mungkin telah musnah seluruhnya di beberapa bagian Teluk Aqaba, Laut Merah, Teluk Oman, dan Samudra Hindia Bagian Barat.

Kematian tersebut disebabkan oleh mikroorganisme bersel tunggal berbentuk telur yang mengkibatkan bulu babi kehilangan duri, mengalami kerusakan jaringan, dan akhirnya mati hanya dalam waktu dua hari.

Ahli biologi kelautan Universitas Tel Aviv dan penulis utama studi tersebut, Dr Omri Bronstein, mengatakan menyaksikan kematian massal tersebut merupakan hal yang memilukan.

Jika masih hidup, bulu babi yang terkena penyakit ini berwarna hitam pekat dengan duri yang sangat panjang dan tajam.

Namun, ketika mati, mereka kehilangan tulang belakang dan jaringannya, memperlihatkan kerangka yang seluruhnya putih dan halus.

“Mereka hampir terlihat seperti karang yang memutih tetapi lebih parah karena durinya juga hilang. Bayangkan melihat manusia tanpa rambut dengan kerangka bagian dalam terbuka. Ini pemandangan yang sulit,” kata Bronstein.

Salah satu kematian massal bulu babi yang paling terkenal terjadi di Laut Karibia pada tahun 1983, yang menimpa spesies bulu babi berduri hitam yang disebut Diadema antillarum.

Baca juga: Massa Mikroba yang Berputar-Putar di Laut Baltik Sebabkan Zona Mati

Pada saat itu, para ilmuwan tidak dapat mengidentifikasi penyebab peristiwa tersebut karena keterbatasan teknologi.

Hampir empat dekade kemudian, peristiwa kematian massal lainnya dari spesies yang sama terjadi di Laut Karibia pada tahun 2022.

Awalnya, para peneliti tidak dapat menemukan jejak infeksi bakteri atau virus pada makhluk tersebut, namun akhirnya mengidentifikasi mikroorganisme di balik penyakit tersebut.

Setelah kematian massal di Karibia, kematian massal pertama Diadema setosum, spesies yang berkerabat dengan Diadema antillarum, dilaporkan terjadi di Laut Mediterania bagian timur pada tahun 2023, dengan patogen yang sama ditemukan sebagai penyebabnya.

Kini mikroorganisme penyebab penyakit telah menyebar ke berbagai wilayah di Timur Tengah.

Peneliti pun meminta pemantauan segera dan tindakan konservasi untuk melindung bulu babi ini.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com