Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Empat Hari Kerja dalam Seminggu Dapat Tingkatkan Kesejahteraan Karyawan

Kompas.com - 24/01/2024, 14:03 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Kebanyakan dari kita bekerja selama lima hingga enam hari per minggu. Namun, studi baru telah menentang "kesepakatan" ini dengan tujuan menganalisis dampak pengurangan jam kerja terhadap kesejahteraan karyawan dan produktivitas perusahaan.

Studi tersebut melibatkan 61 organisasi di Inggris dan menjalankan eksperimen selama enam bulan yang dimulai pada bulan Juni 2022. Selama uji coba, karyawan mendapat pengurangan jam kerja hingga 20% tanpa potongan gaji.

Peserta studi ini sangat beragam, mulai dari pengusaha kecil lokal hingga perusahaan besar di bidang keuangan dan TI.

Kabar naikan, perusahaan-perusahaan tersebut mampu mempertahankan target produktivitas penuh waktu mereka meskipun jam kerjanya dikurangi.

Baca juga: Mengapa Bekerja di Malam Hari Dapat Berbahaya bagi Tubuh?

Hasilnya penelitian ini memberikan gambaran yang optimis. Terdapat pengurangan hari sakit sebesar 65% dan penurunan pergantian staf sebesar 57%, yang menunjukkan angkatan kerja yang lebih sehat dan stabil.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah dampaknya yang tidak signifikan terhadap pendapatan perusahaan, yang rata-rata hanya meningkat tipis sebesar 1,4%.

Kesejahteraan karyawan meningkat secara signifikan, dengan 71% melaporkan berkurangnya kelelahan dan 39% merasa stresnya berkurang.

Dengan keseimbangan kehidupan kerja yang lebih baik, karyawan lebih siap untuk mengatur pekerjaan selagi tetap berkomitmen dengan keluarga dan lingkungan sosial.

Ketika ditanya apa yang para karyawan tersebut lakukan dengan waktu luang ekstra mereka, sebagian besar karyawan mengatakan bahwa mereka fokus pada "kehidupan" mereka, hal-hal seperti berbelanja bahan makanan dan pekerjaan rumah tangga.

Baca juga: Perusahaan Sekarang Sering Efisiensi, Masih Pentingkah Loyalitas Karyawan?

Banyak yang merasa kesehatan mental mereka membaik, dengan berkurangnya stres dan “ketakutan pada hari Minggu” yang ikut hilang bagi sebagian orang.

Para pekerja yang merupakan orangtua menghargai manfaat finansial dan emosional dari menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka, sementara yang lain menekuni hobi mereka.

Penelitian ini dipimpin oleh Universitas Cambridge yang bekerja sama dengan Boston College di AS. Para peneliti menggunakan survei dan wawancara mendalam untuk memahami bagaimana perusahaan beradaptasi dengan model baru ini.

Profesor Brendan Burchell, sosiolog dari Cambridge, mencatat bahwa karyawan secara aktif mengupayakan peningkatan efisiensi, mempersingkat rapat, dan memanfaatkan teknologi yang meningkatkan produktivitas untuk mengimbangi jam kerja yang jauh lebih singkat.

David Frayne dari Departemen Sosiologi Cambridge menyoroti uji coba ini sebagai langkah menuju kebijakan empat hari seminggu yang layak dilakukan di berbagai negara, dan mungkin di seluruh dunia.

Baca juga: Akibat Fatal Budaya Kerja Berlebihan Karyawan Jepang

Namun, transisi ini bukannya tanpa tantangan. Selain itu, perlu diingat bahwa para karyawan mengetahui bahwa produktivitas mereka dipantau dalam penelitian ini, sehingga mungkin sangat memengaruhi etos kerja mereka.

Terlepas dari tantangan-tantangan ini, banyak manajer yang terlibat dalam uji coba ini mengatakan bahwa mereka sulit menerapkan kembali sistem lima hari seminggu yang tradisional. Dengan hasil positif ini, banyak perusahaan kini tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com