Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Seperti Plastik, Sedotan Kertas Bisa Timbulkan Masalah Lingkungan

Kompas.com - 10/01/2024, 11:00 WIB
Monika Novena,
Resa Eka Ayu Sartika

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sedotan berbahan plastik disebut sebagai salah satu limbah penyebab masalah lingkungan.

Sebagai alternatif, beberapa tempat makan kemudian menyediakan sedotan berbahan non-plastik, seperti misalnya yang terbuat dari kertas.

Baca juga: Peneliti Temukan Sedotan Minuman Tertua, Seperti Apa?

Tapi siapa sangka, sedotan kertas ini ternyata bukanlah solusi ramah lingkungan yang diharapkan banyak orang.

Mengutip Science Alert, Senin (8/1/2024) sebuah penelitian baru menemukan bahwa alternatif untuk menyeruput cairan ini rupanya masih mengandung bahan kimia meski dalam tingkat rendah.

Belum diketahui bagaimana dampaknya terhadap kesehatan seseorang.

Namun kandungan bahan kimia yang dikenal sebagai zat poli dan perfluoroalkil (alias PFAS) itu memerlukan waktu berabad-abad untuk terurai hingga konsentrasinya di lingkungan berkurang.

Maka peneliti dalam studi barunya ini pun menyimpulkan jika sedotan keras masih berbahaya karena belum tentu dapat terurai secara hayati.

Temuan bahan kimia

Hasil itu ditemukan setelah para ilmuwan di Universitas Antwerp di Belgia menguji 39 merek sedotan berbeda yang terbuat plastik, kertas, kaca, bambu, atau baja tahan karat.

Mereka menemukan bahwa kandungan PFAS terdapat di hampir semua bahan, tidak terkecuali sedotan kertas.

Saat ini, banyak produk dibuat dengan PFAS, kelompok 15.000 bahan kimia sintetis yang beberapa di antaranya mungkin beracun bagi kesehatan hewan dan manusia pada konsentrasi yang cukup tinggi.

Baca juga: Sejak Kapan Sedotan Diciptakan dan Dipakai Manusia?

Untuk membuat kertas dan sedotan bambu anti air, banyak produsen yang menambahkan PFAS.

“PFAS dalam jumlah kecil, meski tidak berbahaya, dapat menambah beban kimia yang sudah ada di dalam tubuh,” jelas ilmuwan lingkungan Thimo Groffen dari Universitas Antwerp.

Bahkan setelah sedotan digunakan, polutannya masih tetap ada. Jika sedotan didaur ulang, bahan kimia tersebut dapat menghasilkan produk baru.

Dan jika sedotan tersebut dibuang ke TPA atau dibakar, bahan kimia di dalamnya akan menyebar secara diam-diam melalui angin atau tanah.

Para ilmuwan masih mencari tahu pada tingkat berapa bahan kimia di sekitar kita dapat meningkatkan risiko kesehatan, namun karena bahan kimia tersebut dapat menumpuk di lingkungan dan tubuh hewan, para ilmuwan khawatir polusi tingkat rendah sekalipun dapat kembali menghantui kita.

Mengurangi penggunaan plastik dapat membantu namun hanya akan berdampak besar jika alternatif yang ada bebas dari PFAS.

Bagi konsumen yang khawatir terhadap potensi dampak lingkungan atau kesehatan, Groffen menyarankan untuk menggunakan sedotan stainless steel atau tanpa sedotan sama sekali.

Studi dipublikasikan di Food Additives and Contaminants.

Baca juga: Penemuan yang Mengubah Dunia: Sedotan, Dulu Terbuat dari Emas

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com