Sigit Dwi Maryanto
Mahasiswa Doktoral (S3) Fakultas Biologi UGM dan Peneliti Bioteknologi
Peneliti Bioteknologi yang sedang aktif menjadi mahasiswa S3 di Program Studi Doktor, Fakultas Biologi, UGM

Perubahan Iklim dan Epigenetik

Kompas.com - 23/11/2022, 13:24 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

ANCAMAN perubahan iklim global semakin nyata. Perubahan iklim mengacu pada perubahan suhu dan pola cuaca dalam jangka panjang.

Iklim dapat berubah secara alami. Namun sejak abad 19, diperkirakan aktivitas manusia telah menjadi faktor utama perubahan iklim dunia, terutama dengan pemakaian bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam yang dapat menghasilkan gas rumah kaca.

Gas yang dihasilkan ini akan memerangkap panas sehingga menimbulkan efek yang dinamakan pemanasan global.

Menurut laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change atau Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim), terjadi peningkatan suhu Bumi sekitar 0,74°C ±0,18°C dalam rata-rata 100 tahun terakhir, sehingga memicu adanya perubahan iklim dunia.

Baca juga: Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, Kementerian ESDM Akselerasi Transisi Energi

Secara umum, pemanasan global akan berdampak negatif pada berbagai bidang termasuk salah satunya aktivitas pertanian. Pemanasan global diprediksi akan berdampak pada semakin tinggi cekaman (stres) lingkungan dan meningkatnya jumlah lahan pertanian kurang optimal di Indonesia.

Akhirnya, hal itu akan berdampak signifikan terhadap turunnya produktivitas pertanian nasional. Indonesia sebagai negara kepulauan yang beriklim tropis diprediksi mengalami peningkatan signifikan cekaman lingkungan akibat pemanasan global, seperti suhu tinggi, kekeringan, banjir, dan cekaman peningkatan kadar garam (salinintas).

Suhu tinggi dan kekeringan dapat memberikan dampak buruk bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya. Selain itu, perubahan iklim menimbulkan bencana banjir di beberapa tempat sehingga petani gagal panen akibat sawahnya terendam banjir dari curah hujan yang tinggi atau akibat banjir rob.

Kondisi demikian akan memperburuk dan menyumbang terjadinya kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, dan stunting di sejumlah wilayah Indonesia. Kerawanan pangan menjadi bencana yang menakutkan akibat dampak perubahan iklim ini.

Adaptasi molekuler

Perubahan iklim mendorong semua organisme atau makhluk hidup melakukan proses adaptasi agar dapat menyesuaikan terhadap perubahan lingkungan yang ada. Secara alami, proses adaptasi ini merupakan bagian dari seleksi alam terhadap kehidupan yang ada di Bumi.

Tanaman juga akan melakukan proses adaptasi mulai dari tingkat paling kecil, yaitu tingkatan molekuler. Pada tingkatan molekuler ini, mekanisme adaptasi dapat berupa respon ekspresi dari suatu gen pengendali cekaman akibat perubahan iklim, misalnya peningkatan suhu atau perendaman air akibat banjir. Respons ekspresi gen akan berubah yaitu meningkat atau menurun.

Halaman:


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.