Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 10/11/2022, 19:02 WIB


KOMPAS.com - Beberapa induk ikan melindungi anak-anak mereka dengan menyimpan di mulutnya. Namun sebuah studi baru mengungkap induk ikan itu tak seratus persen melindungi keturunannya dan disebut telah melakukan kanibalisme.

Beberapa ikan cichlid betina diketahui justru memakan hingga setengah dari anak yang disimpan dalam mulut mereka. Hal itu dilakukan untuk mengurangi beberapa tekanan fisiologis sebagai induk.

Dilansir dari New Scientist, Kamis (10/11/2022) ikan Astatotilapia burtoni betina, spesies dalam keluarga cichlid, tak berburu atau mencari makan selama dua minggu saat mereka menyimpan telur atau anak ikan di mulut mereka.

Itu menyebabkan penurunan berat badan, penurunan kekebalan, penuaan lebih cepat, dan peluang reproduksi yang lebih rendah.

 

Akan tetapi dengan mengonsumsi hingga setengah anaknya, induk ikan ini memperoleh nutrisi yang dibutuhkan untuk mengatasi beberapa kesulitan tersebut.

Baca juga: Apa Makanan Ikan Arapaima gigas?

"Ikan betina mendapatkan sesuatu dari memakan anak-anaknya. Tidak hanya dalam hal untuk kondisi tubuh, tetapi bahkan bagi sesuatu yang berpotensi meningkatkan kesehatan mereka," kata Peter Dijkstra dari Central Michigan University.

Dalam studi baru ini, Dijkstra dan Jake Sawicki di Michigan State University mengamati 31 ikan A. burtoni betina yang mengerami dan 32 betina yang telurnya mereka buang.

Hasilnya, peneliti menemukan semua induk ikan yang mengerami memiliki sedikit anak ikan pada akhir periode dua minggu setelah mereka mengerami atau hingga 60 persen ikan muda yang menghilang.

Hal ini menunjukkan bahwa ikan-ikan tersebut telah mengkanibal anak-anaknya. Jumlah anak atau telur yang hilang sangat bervariasi dari satu betina ke betina lainnya.

"Mereka bisa saja menjatuhkannya, tetapi saya mengamati mereka setiap hari selama berjam-jam dan tak pernah melihat itu terjadi. Induk ikan menutup mulut mereka rapat-rapat," papar Sawicki.

Baca juga: Apakah Ikan Pari Berbahaya bagi Manusia?

Jadi satu-satunya penjelasan yang logis adalah bahwa induk mengonsumsi beberapa dari mereka.

Peneliti juga mengukur tingkat stres oksidatif ikan. Sebab dalam studi sebelumnya, Dijkstra dan rekan-rekannya menemukan bahwa induk A. burtoni memiliki tingkat stres oksidatif yang lebih tinggi.

Stres oksidatif tersebut menyebabkan produksi bahan kimia yang merusak di dalam sel, yang terjadi setelah ikan bertelur dan memelihara keturunan di mulut mereka.

Tim peneliti selanjutnya mengambil sampel darah dan hati dari setiap induk ikan ini secara berkala, mulai dari dua hari, enam hari, dan dua minggu setelah pemijahan.

Pada hari kedua, peneliti menemukan 23,7 persen lebih banyak kerusakan DNA di hati betina yang menyimpan anak ikan di mulut mereka dibandingkan dengan betina yang membuang telurnya.

Baca juga: Apa Itu Ikan Arapaima yang Sering Viral Saat Ditemukan Warga?

Sementara pada hari keenam dan dua minggu, tak banyak perbedaan dalam kerusakan hati antara betina yang sedang mengerami dan yang tidak.

Semakin cepat, anak ikan hilang atau dimakan peneliti berpendapat makin tinggi pula antioksidan yang melawan stres oksidatif di hati induk.

Itu menunjukkan para induk mengorbankan anak-anak mereka untuk meningkatkan kesehatan mereka sendiri dan mengurangi stres pada tubuh yang disebabkan oleh beban pengasuhan.

"Dalam skema besar, mungkin lebih bermanfaat untuk memakan beberapa dari anak ikan yang masih muda dan dapat bereproduksi lagi di masa depan, daripada mati setelah siklus reproduksi. Jadi ini lebih merupakan investasi dalam reproduksi masa depan," tambah Sawicki.

Studi temuan bahwa ikan Astatotilapia burtoni yang menyimpan anak-anaknya di dalam mulut ternyata melakukan kanibalisme telah dipublikasikan di jurnal Biology Letters.

Baca juga: Keunikan Ikan Channa Barca, Ikan Berharga Fantastis Asal India

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+