Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 10/11/2022, 13:02 WIB


KOMPAS.com - Fenomena microburst belum lama ini ramai di media sosial, diduga terjadi di Bekasi pada Rabu (9/11/2022). Penyebab fenomena microburst ini sering dikaitkan dengan badai petir yang terjadi saat hujan deras.

Apa itu fenomena microburst?

Microburst adalah pola angin kencang yang turun dari awan hujan atau cumulonimbus (Cb), yang menghantam tanah dan menyebar secara horizontal, dikutip dari Britannica, Kamis (10/11/2022).

Menurut National Weather Service, beberapa fenomena microburst dapat menimbulkan ancaman bagi kehidupan, bahkan bagi penerbangan.

Lantas, apa penyebab fenomena microburst bisa terjadi?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fenomena microburst ini, di antaranya sebagai berikut.

  1. Entrainment atau terjebaknya udara kering tingkat menengah.
  2. Pendinginan di bawa dasar awan badai petir (Cb).
  3. Sublimasi (terjadi saat dasar awan berada di atas titik beku).
  4. Adanya hujan atau hujan es di dalam badai petir.

Baca juga: Fenomena Apa Itu Microburst yang Terjadi Saat Hujan Deras?

Beberapa microburst terjadi karena kombinasi faktor-faktor penyebab tersebut, kendati ada juga fenomena microburst yang mungkin dapat didorong oleh faktor penyebab lainnya.

Oleh karenanya, fenomena microburst ini terbagi menjadi tiga jenis. Di antaranya microburst basah, microburst kering dan microburst hibrida.

Pendinginan yang terjadi di bawah awan cumulonimbus atau badai petir dan sublimasi adalah mekanisme dorongan utama yang dapat menyebabkan fenomena microburst kering.

Penyebab fenomena microburst basah, yakni didorong oleh masuknya udara kering tingkat menengah dan pemuatan presipitasi.

Sementara terjadinya fenomena microburst hibrida memiliki karakteristik microburst basah dan kering.

Penyebab fenomena microburst hibrida ini terjadi karena dorongan di tingkat menengah oleh udara kering yang terjebak dan atau pemuatan presipitasi, serta di tingkat rendah adanya pendinginan di bawah dasar awan Cb dan atau terjadi sublimasi.

Fenomena microburst umumnya tidak terjadi dalam durasi yang lama. Biasanya, fenomena alam tersebut bisa berlangsung sekitar 5 menit hingga 15 menit.

Baca juga: Fenomena Hujan Es di Yogyakarta, Apa Penyebabnya?

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+