Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
AM Lilik Agung
Trainer bisnis

Mitra Pengelola GALERIHC, lembaga pengembangan SDM. Beralamat di lilik@galerihc.com.

Rendahnya Kecerdasan Intelektual Manusia Indonesia

Kompas.com - 05/11/2022, 07:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KECERDASAN intelektual (IQ) menjadi terdakwa. Bahwa pengaruh IQ terhadap kesuksesan manusia hanya pada angka dua puluh persen. Mayoritas, yaitu delapan puluh persen ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ).

Itu menurut Daniel Goleman, penulis buku Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ, yang terbit tahun 1995.

Sejak itu orang berlomba-lomba memperkuat EQ agar lebih sukses dalam hidupnya. Apalagi IQ banyak dipengaruhi genetik sehingga lebih susah untuk diperbaiki dibanding dengan EQ yang bisa dipelajari dan dipraktikkan dalam hidup sehari-hari.

Pendapat Daniel Goleman yang berbasis pada kajian ilmiah dengan data-data pendukung nan sahih, dalam banyak hal benar adanya.

Namun menjadi tidak mutlak ketika dua tahun berikut, Paul Stoltz menulis magnus opus Adversity Quotient: Turning Obstacles Into Opportunities.

Adversity quotient (AQ) adalah kapasitas seseorang menghadapi kesulitan hidupnya. Semakin seseorang berhasil mengatasi kesulitan, semakin terbuka peluang untuk sukses dalam hidupnya.

Dalam bahasa lain, Stoltz menyimpulkan bahwa kesuksesan seseorang dalam hidup apabila ia memiliki AQ tinggi.

Dalam dua dekade terakhir kehidupan keagamaan di Indonesia begitu marak. Hampir semua aspek kehidupan berkelindan dengan agama.

Semangat beragama nan tinggi di Indonesia akhirnya berujung pada pendapat bahwa mempertebal kecerdasan spiritual (SQ) itu dasar menuju sukses.

Tidak peduli berapapun tinggi nilai IQ, lebih penting adalah mempelajari SQ dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di antara empat kecerdasan ini -IQ, EQ, AQ, SQ- berbasis pendapat berbagai pakar, kecerdasan intelektual selalu berada pada nomer buncit untuk dijadikan pijakan kesuksesan hidup.

Kemampuan bernalar, keterampilan memecahkan masalah serta kompetensi berimajinasi dan berinovasi yang merupakan anak kandung IQ akhirnya menjadi pilihan paling ujung untuk ditumbuh-kembangkan.

Indonesia dan IQ

World Population Review pada akhir September 2022, mengeluarkan rilis tentang rata-rata kecerdasan intelektual yang dimiliki penduduk suatu negara. Lagi-lagi, Indonesia terpaksa menelan pil pahit dari hasil penelitian ini.

Dari 199 negara yang diteliti, posisi Indonesia ada para peringkat 130.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+