Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potensi Pandemi Berikutnya Bisa Berasal dari Mencairnya Es Arktik

Kompas.com - 25/10/2022, 10:02 WIB
Monika Novena,
Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Penelitian baru menunjukkan potensi pandemi berikutnya mungkin bukan berasal dari kelelawar atau burung, tetapi berasal dari dalam es yang mencair di Arktik atau Kutub Utara.

Untuk diketahui bahwa pandemi adalah wabah penyakit endemi yang kemudian menyebar dan menginfeksi banyak orang di seluruh dunia.

Hasil studi yang menunjukkan potensi pandemi berikutnya itu diperoleh setelah peneliti melakukan analisis genetik sedimen tanah dan danau dari Danau Hazen, danau air tawar Arktik tinggi terbesar di dunia.

Penelitian mengungkapkan ada risiko limpahan virus, di mana virus yang menginfeksi inang baru untuk pertama kalinya, berpotensi lebih tinggi di dekat gletser yang mencair.

Baca juga: Perubahan Iklim Berpotensi Sebabkan Pandemi Berikutnya, Studi Jelaskan

Temuan potensi pandemi berikutnya ini pun menyiratkan bahwa ketika suhu global meningkat karena perubahan iklim, kemungkinan besar virus dan bakteri yang terperangkap di gletser dan lapisan es Arktik yang mencair dapat terbangun kembali.

Gletser yang mencair akan memunculkan patogen-patogen yang memiliki potensi menjadi pandemi berikutnya dengan menginfeksi satwa liar setempat, terutama karena jangkauan mereka juga bergeser lebih dekat ke kutub.

Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah saat wabah antraks melanda Siberia utara tahun 2016. Kejadian itu dikaitkan dengan gelombang panas yang mencairkan lapisan es dan kemudian mengekspos bangkai rusa yang terinfeksi.

Untuk lebih memahami risiko potensi pandemi berikutnya yang ditimbulkan dari virus yang telah membeku dalam gletser di Arktik itu, Stephane Aris-Brosou bersama rekan-rekannya di University of Ottawa di Kanada mengumpulkan sampel tanah dan sedimen dari Danau Hazen.

Baca juga: Apa Itu Endemi dan Bedanya dengan Pandemi? Pakar Sebut Covid-19 akan Jadi Endemi

Ilustrasi pandemi Virus Corona awal yang menyebabkan Covid-19 yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China. Data awal pandemi Covid-19 di Wuhan, China.SHUTTERSTOCK Ilustrasi pandemi Virus Corona awal yang menyebabkan Covid-19 yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China. Data awal pandemi Covid-19 di Wuhan, China.

Selanjutnya, seperti dikutip dari Guardian, Senin (24/10/2022) peneliti mengurutkan RNA dan DNA dalam sampel untuk mengidentifikasi ciri yang cocok dengan virus yang sudah diketahui sebelumnya.

Peneliti juga menggunakan algortima yang menilai kemungkinan virus tersebut menginfeksi kelompok organisme yang tak terkait.

Penelitian, yang diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B, menunjukkan bahwa risiko virus menyebar ke inang baru lebih tinggi di lokasi yang dekat dengan aliran air lelehan glasial dalam jumlah besar. Situasi tersebut menjadi lebih mungkin saat iklim menghangat.

Dari hasil itu, peneliti tidak menghitung berapa banyak virus baru yang teridentifikasi dan apakah virus mampu memicu infeksi.

Namun, penelitian terbaru lainnya menunjukkan bahwa virus yang tak diketahui bisa terdapat di gletser.

Baca juga: Ahli Peringatkan Ancaman Penyakit dari Hewan ke Manusia yang Berpotensi Memicu Pandemi Berikutnya

Misalnya tahun lalu, peneliti di Ohio State University, AS mengumumkan mereka telah menemukan materi genetik dari 33 virus dalam sampel es yang diambil dari dataran tinggi Tibet di China. Berdasarkan lokasi mereka, virus diperkirakan berusia sekitar 15.000 tahun.

Meski begitu peneliti mengingatkan bahwa memprediksi risiko limpahan virus yang tinggi tidak sama dengan memprediksi limpahan atau pandemi yang sebenarnya.

Hanya saja ketika suhu meningkat, risiko tumpahan virus ini pun juga akan meningkat. Tapi apakah akan menyebabkan pandemi, peneliti juga tak mengetahuinya.

"Kita perlu menjelajahi dunia mikroba di seluruh planet untuk memahami risikonya. Dua hal yang sangat jelas adalah Arktik memanas dengan cepat dan itu dipengauhi oleh umat manusia. Kedua, penyakit dari tempat lain menemukan jalannya ke komunitas dan ekosistem Kutub Utara yang rentan," kata Arwyn Edwards, direktur Pusat Interdisipliner untuk Mikrobiologi Lingkungan di Universitas Aberystwyth.

Baca juga: Status Pandemi Covid-19 Belum Akan Diubah Jadi Endemi, Ini Kata WHO

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com