Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
BRIN
Badan Riset dan Inovasi Nasional

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah lembaga pemerintah yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. BRIN memiliki tugas menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi.

Nilai-Nilai Pancasila untuk Selamatkan Keanekaragaman Hayati dari Kepunahan

Kompas.com - 04/10/2022, 12:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Agus Haryono

INDONESIA merupakan negara megabiodiversitas yang dijuluki juga sebagai surga biodiversitas di dunia. Namun surga tersebut perlahan berubah menjadi dunia pada umumnya yang penuh dengan sampah peradaban.

Keserakahan kaum kapitalis atau industrialis jarang lagi mempertimbangkan lingkungan dalam meraup untung sebesar-besarnya. Eksploitasi terhadap lahan dan perairan yang dilakukan secara massif dan gigantik, terutama oleh pihak swasta—yang berdampak pada akselerasi perubahan iklim dan polusi—serta adanya spesies luar yang bersifat invasif semakin mengancam terhadap kepunahan keanekaragam hayati Indonesia dan secara global pada umumnya.

Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara bisa dijadikan landasan nilai dalam melindungi dan menyelamatkan keanekaragaman hayati. “Mereka bukannya menerima Pancasila semata-mata sebagai konsepsi ideologi belaka, melainkan sebagai suatu pedoman yang praktis sekali untuk bertindak.” (Soekarno, 1960: 330)

Baca juga: Peneliti: Indonesia Hadapi Tantangan Pemberdayaan Keanekaragaman Hayati

Sila pertama merupakan landasan untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya teologi lingkungan. Bumi beserta isinya adalah makhluk Tuhan yang harus diperlakukan secara adil dan beradab sesuai dengan kodratnya seperti terkandung dalam sila kedua.

Merusak lingkungan bukan hanya melanggar regulasi dan legislasi akan tetapi juga merupakan perbuatan dosa yang harus dipertangungjawabkan di hadapan Tuhan.

Penyelamatan biodiversitas tidak bisa dilakukan secara sendiri dan parsial, akan tetapi memerlukan persatuan, sinergi atau kolaborasi dari seluruh penduduk.

Kompleksitas permasalahan lingkungan perlu dipecahkan dari berbagai perspektif atau multidisplin. Masalah biodiversitas bukan hanya masalah biologi atau iptek akan tetapi menyangkut semua dimensi persoalan manusia yang beragam: ideologi, politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Inilah esensi dari sila ketiga.

Solusi dan aksi penyelamatan biodiversitas didasarkan atas dasar kesepakatan bersama atau musyawarah yang demokratis dan transparan. Bumi dan langit milik dan tanggung jawab bersama maka kerjasama global menjadi niscaya. Semua negara, kaya maupun miskin, memiliki hak yang sama untuk bersuara karena dampak industri dirasakan oleh seluruh penghuni bumi.

Dalam perspektif ilmu pengetahuan dan teknologi, diperlukan riset dan inovasi yang lebih maju dari yang sedang dilakukan sekarang ini. Untuk itu, diperlukan peningkatan kapasitas dan kompetensi para peneliti, ketersediaan infrastruktur riset beserta fasilitas lainnya di semua negara yang berkominten terhadap keselamatan lingkungan.

Baca juga: Keanekaragaman Hayati Indonesia: OR-IPH BRIN Terus Berupaya Ungkap dan Manfaatkan Biodiversity

Kolaborasi riset untuk keberlangsungan biodiversitas serta pemanfaatannya sangat urgen dilakukan dengan alasan:

Pertama, adopsi dan implementasi teknologi baru dan inovasi untuk ekonomi hijau dan ekonomi biru, dan pembangunan berbasis alam terutama ekosistem biodiversitas.

Kedua, konservasi dan pemanfaatan biodiversitas.

Ketiga, pengembangan sediaan farmasi berbasis biodiversitas lokal.

Keempat, adaptasi perubahan iklim dan aksi mitigasi tehadap dampak pemanfaatan terhadap aspek sosioekonomi dan keberlangsungan biodiversitas.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com