Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Kompas.com - 28/06/2022, 11:05 WIB

KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut, masih menjadi masalah yang kerap dialami beberapa wilayah di Indonesia setiap tahunnya. Upaya penanganan karhutla sendiri telah dilakukan oleh pemerintah.

Sejak tahun 2018 hingga 2019, pihaknya melakukan pembangunan model penanganan karhutla dalam skala lansekap, yakni dengan model klaster.

Model itu dikembangkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di beberapa provinsi yang memiliki lahan gambut luas seperti Sumatera Selatan, Riau, dan Kalimantan Tengah.

Baca juga: Kabut Asap di Palembang Bukan dari Karhutla, tapi Kabut Adveksi

Menindaklanjuti program tersebut, organisasi multi-pihak Kemitraan Bagi Pembaruan Tata Pemerintahan atau KEMITRAAN, turut mendorong penerapan pendekatan klaster ini.

Pihaknya menilai, keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan pun sangat dibutuhkan. 

"Mengapa memakai sistem klaster? Karena untuk mencegah itu (karhutla) maka dilihat tipologinya dulu," ujar Direktur Eksekutif KEMITRAAN, Laode M Syarif dalam pertemuan dengan media yang digelar di Jakarta, Senin (27/6/2022).

"Misalnya, kumpulan dari pengguna lahan yang terdampak, kedua kesamaan dalam risiko, strategi, dan taktik pencegahan yang dibutuhkan," lanjutnya.

Laode mengatakan, bahwa pendekatan klaster merupakan kegiatan pencegahan kebakaran yang bersifat kolaboratif, dengan melibatkan semua pihak, seperti pemerintah daerah, Manggala Agni, TNI, kepolisian, perusahaan swasta dan kecamatan serta desa.

Pasalnya, Indonesia memiliki kekayaan lahan gambut tropis yang diperkirakan mencapai 20,6 juta hektar atau sekitar 10,8 persen dari luas daratannya.

Ketika lahan gambut berada dalam keadaan basah dan memiliki vegetasi hutan alami, maka akan mampu menyerap CO2 dari atmosfer dan membantu mendinginkan suhu bumi.

Sebaliknya, saat gambut dan vegetasinya terbakar, akan melepaskan emisi karbon dengan cepat. Lalu, di musim kemarau lahan gambut ini berpotensi menjadi kering, sehingga sangat rawan terbakar.

Kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan, lantaran api akan menjalar di bawah permukaan tanah secara lambat dan dideteksi, serta dampaknya menimbulkan asap tebal.

"Pendekatan ini diharapkan dapat mengubah paradigma penanganan karhutla dari upaya pemadaman api kepada upaya pencegahan kebakaran. Strategi pencegahan dengan kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan, karena kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan,” terang Laode.

Baca juga: Membaca Pola Karhutla

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.