Kompas.com - 16/06/2022, 10:31 WIB

KOMPAS.com - Jelang Hari Raya Kurban atau Idul Adha, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menghantui. Masyarakat diimbau waspada terhadap penyakit yang menyerang hewan ternak seperti sapi, kerbau, maupun kambing.

Foot and Mouth Disease atau wabah PMK dilaporkan meluas dan menyebar di antara hewan ternak. 

Kondisi ini tetap harus diwaspadai oleh masyarakat, terlebih menjelang Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah. 

PMK dipastikan tidak berisiko terhadap kesehatan manusia, tapi masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan saat membeli hewan ternak, baik sapi maupun kambing menjelang hari raya kurban.

Direktur Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan UGM, Ir. Nanung Danar Dono, S.Pt., MP., Ph.D., IPM, ASEAN Eng menjelaskan, hewan ternah yang akan dibeli harus dipastikan dalam kondisi sehat dan memenuhi syarat.

Baca juga: Jelang Idul Adha, Ini Cara Mencegah Penyebaran PMK Saat Potong Kurban

"PMK (pada hewan ternak seperti sapi) ini tidak ditularkan ke manusia atau bukan penyakit zoonosis sehingga daging dan susu aman dikonsumsi. Namun demikian penyakit ini menular antar ternak dengan sangat cepat sehingga masyarakat perlu berhati-hati dalam memilih hewan kurban, pastikan yang memang sehat dan memenuhi syarat," ujar Nanung dalam laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM) seperti dikutip Kompas.com, Rabu (15/6/2022).

Tips memilih hewan kurban di tengah PMK

Nanung mengatakan, salah satu tips yang dapat dilakukan saat memilih hewan kurban di tengah wabah PMK yaitu membeli hewan kurban di tempat pedagang besar.

"Lebih aman membeli hewan kurban di pedagang yang memiliki banyak hewan ternak karena mereka akan sangat menjaga kesehatan ternak-ternaknya agar tidak sampai tertular penyakit karena akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar," kata dia.

Selain itu, tips memilih hewan kurban di tengah wabah PMK yakni usahakan membeli hewan kurban pada pedagang yang mau memberikan jaminan atau garansi pada ternak yang diperjualbelikan.

Masyarakat juga diimbau waspada apabila hewan ternak untuk kurban yang dibeli nantinya menunjukkan gejala sakit PMK, dan memastikan penjual bersedia untuk mengganti dengan ternak lain yang sehat.

Baca juga: Wabah PMK Infeksi Sapi, PDHI Desak Pemerintah Lakukan Lockdown Hewan Berkaki 4 Sekarang

Petugas Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang memeriksa mulut sapi di salah satu lokasi peternakan di Periuk, Kota Tangerang, Banten, Selasa (14/6/2022). Pemerintah Kota Tangerang melarang hewan kurban luar daerah masuk ke wilayah Kota Tangerang pada 14 hari sebelum Idul Adha guna mencegah penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). ANTARA FOTO/Fauzan/rwa. ANTARA FOTO/Fauzan Petugas Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang memeriksa mulut sapi di salah satu lokasi peternakan di Periuk, Kota Tangerang, Banten, Selasa (14/6/2022). Pemerintah Kota Tangerang melarang hewan kurban luar daerah masuk ke wilayah Kota Tangerang pada 14 hari sebelum Idul Adha guna mencegah penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). ANTARA FOTO/Fauzan/rwa.

Tips selanjutnya, lakukan pembelian hewan kurban mendekati hari raya kurban. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir risiko hewan kurban tertular penyakit.

Selalu pastikan dan melakukan pengecekan kondisi hewan ternak.

Tidak hanya dibuktikan hanya dengan surat keterangan kesehatan hewan, tapi pastikan hewan tidak bergejala dan lingkungan sekitar tidak ada wabah PMK.

"Hindari untuk survei ternak dengan melakukan kunjungan dari kandang ke kandang karena berpotensi memperluas penularan PMK," lanjut Nanung.

Untuk diketahui, penularan PMK pada ternak dapat terjadi melalui kontak langsung antar ternak, kandang bersama, lalu lintas hewan tertular, kendaraan angkutan, udara, air, pakan/minum, feses ternak terjangkit, serta produk maupun orang yang terkontaminasi virus PMK.

Baca juga: Wabah PMK Infeksi Sapi, PDHI Desak Pemerintah Lakukan Lockdown Hewan Berkaki 4 Sekarang

Syarat hewan kurban

Nanung menyampaikan, beberapa syarat sah hewan yang dijadikan kurban yakni hewan sehat, tidak cacat seperti buta, pincang, serta tidak terlalu kurus.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan Fatwa MUI Nomor 32 Tahun 2022 tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibadah Kurban Saat Kondisi Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Dalam fatwa tersebut, MUI memaparkan syarat hewan yang sah untuk dijadikan hewan kurban, sebagai berikut:

1. Hewan yang terkena PMK bergejala klinis kategori ringan seperti lepuh ringan pada celah kuku, kondisi lesu, tidak nafsu makan, dan keluar air liur lebih dari biasanya hukumnya adalah sah dijadikan hewan kurban.

2. Hewan yang terkena PMK dengan gejala klinis kategori berat seperti lepuh pada kuku sampai terlepas, pincang, tidak bisa berjalan, dan menyebabkan sangat kurus, maka hukumnya adalah tidak sah dijadikan sebagai hewan kurban.

Baca juga: Mengenal Wabah PMK dan Pengaruhnya pada Manusia

Sejumlah sapi perah di kandang peternakan tampak lemah karena infeksi PMK, di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Rabu (15/6/2022). Sapi yang terinfeksi kian bertambah. Hari ini mencapai 1.667 ekor.MUHAMAD SYAHRI ROMDHON Sejumlah sapi perah di kandang peternakan tampak lemah karena infeksi PMK, di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Rabu (15/6/2022). Sapi yang terinfeksi kian bertambah. Hari ini mencapai 1.667 ekor.

3. Hewan yang terkena PMK dengan gejala klinis kategori berat dan sembuh dari PMK dalam rentang waktu yang dibolehkan kurban (tanggal 10-13 Dzulhijjah), maka hewan ternak tersebut sah dijadikan hewan kurban.

4. Hewan yang terkena PMK dengan gejala klinis kategori berat dan sembuh dari PMK setelah lewat rentang waktu yang dibolehkan berkurban (tanggal 10- 13 Dzulhijjah), maka sembelihan hewan tersebut dianggap sedekah bukan hewan kurban.

Nanung mengimbau masyarakat untuk tidak mencuci daging maupun jeroan di sungai.

Sebab, hal itu bisa mencemari lingkungan dan berpotensi menularkan penyakit ke hewan yang sehat di tempat yang lain, jika hewan yang disembelih ternyata sakit.

 

Baca juga: Ribuan Sapi di Jawa Timur Terinfeksi Penyakit Mulut dan Kuku, Apa Itu?

Selain itu, mencuci daging di sungai juga tidak higienis.

Untuk mencegah penyebaran PMK, dapat dilakukan dengan melakukan pembatasan lalu lintas hewan ternak, kendaraan, maupun manusia terutama dari daerah terjangkit.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah memproteksi hewan ternak sehat agar tidak terinfeksi melalui pemberian suplemen atau pemberian nutrisi tambahan, serta vaksinasi dapat diberikan pada ternak yang sehat.

"Upaya-upaya tersebut diharapkan mampu meminimalisir penularan PMK agar tidak semakin meluas," pungkas Nanung.

Baca juga: Wabah PMK Infeksi Sapi, PDHI Desak Pemerintah Lakukan Lockdown Hewan Berkaki 4 Sekarang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber UGM
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Objek Terbesar di Tata Surya?

Apa Objek Terbesar di Tata Surya?

Oh Begitu
Bagaimana Cara Ikan Koi Berkembang Biak?

Bagaimana Cara Ikan Koi Berkembang Biak?

Oh Begitu
Monster Laut Bermuka Buaya Ditemukan 25 Tahun Lalu, Seperti Apa?

Monster Laut Bermuka Buaya Ditemukan 25 Tahun Lalu, Seperti Apa?

Fenomena
Apa Saja Ciri-ciri Bulan?

Apa Saja Ciri-ciri Bulan?

Oh Begitu
Telapak Tangan Selalu Berkeringat? Bisa Jadi Gejala Hiperhidrosis

Telapak Tangan Selalu Berkeringat? Bisa Jadi Gejala Hiperhidrosis

Oh Begitu
Virus Baru Mirip Penyebab Covid-19 Ditemukan di Kelelawar Rusia

Virus Baru Mirip Penyebab Covid-19 Ditemukan di Kelelawar Rusia

Fenomena
Kenapa Petai Bau? Ini Penjelasannya

Kenapa Petai Bau? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Mengapa Puffin Kini Terancam Punah?

Mengapa Puffin Kini Terancam Punah?

Oh Begitu
Mengenal Edible Flower, Bunga Cantik yang Bisa Dimakan dan Baik untuk Kesehatan

Mengenal Edible Flower, Bunga Cantik yang Bisa Dimakan dan Baik untuk Kesehatan

Oh Begitu
Kuda Poni Makan Apa?

Kuda Poni Makan Apa?

Oh Begitu
Air Ditemukan di Debu Asteroid, Beri Petunjuk Asal Usul Kehidupan Bumi

Air Ditemukan di Debu Asteroid, Beri Petunjuk Asal Usul Kehidupan Bumi

Fenomena
Bagaimana Cara Trenggiling Berkembang Biak?

Bagaimana Cara Trenggiling Berkembang Biak?

Oh Begitu
Dampak Letusan Gunung Tonga Bisa Hangatkan Bumi

Dampak Letusan Gunung Tonga Bisa Hangatkan Bumi

Fenomena
Terbuat dari Apa Darah Manusia?

Terbuat dari Apa Darah Manusia?

Kita
3 Manfaat Rambutan Menurut Sains

3 Manfaat Rambutan Menurut Sains

Oh Begitu
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.