Kompas.com - 29/05/2022, 17:01 WIB

KOMPAS.com - Alzheimer adalah salah satu penyakit paling umum dari demensia, dan kerap dialami orang lanjut usia (lansia).

Penyakit ini mengakibatkan gangguan penurunan fungsi otak, yang dapat memengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, perilaku hingga kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Akibatnya, seseorang dengan alzheimer dapat menjadi pikun

Organisasi non-profit Alzheimer Indonesia (ALZI), menyebut berdasarkan data Alzheimer’s Disease International dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2017, prevalensi alzheimer di seluruh dunia diperkirakan sekitar 46,8 hingga 50 juta orang. 

Di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 1,2 juta orang dengan demensia pada tahun 2016. Jumlah ini berpotensi meningkat menjadi 2 juta kasus di tahun 2030, dan 4 juta kasus di tahun 2050 mendatang.

Baca juga: Riset Terbaru, Makan Tempe Bisa Cegah Pikun Akibat Alzheimer

Neurolog dan Guru Besar FK UNIKA Atma Jaya, Prof Dr dr Yuda Turana, SpS (K); menjelaskan bahwa usia merupakan faktor risiko penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, hipertensi, kanker, osteoporosis, dan sebagainya.

Kondisi ini juga dapat dialami otak, di mana fungsinya akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. 

"Otak kita pun mengalami degeneratif, itu yang disebut dengan demensia," ungkap Yuda dalam konferensi pers memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2022, Jumat (27/5/2022).

Kendati biasanya dialami orang di atas 65 tahun, ada juga pasien yang terkena alzheimer sejak usianya 40 tahunan atau 50 tahunan.

Terkait dengan faktor risiko alzheimer, kata Yuda, usia adalah penyebab yang paling umum dan tidak dapat diubah.

Namun, dia menyampaikan bahwa ada beberapa faktor risiko lain yang dapat diubah, di antaranya:

  • Tekanan darah tidak terkontrol
  • Merokok
  • Minum minuman beralkohol
  • Kolesterol tinggi
  • Obesitas
  • Stres yang tinggi

"Usia muda memang betul tergantung dari pola hidup, pola hidup yang menyangkut aspek fisik dan pola hidup yang menyangkut psikis juga. Artinya olahraganya sering tetapi stresnya juga banyak, itu bisa jadi faktor risiko (alzheimer)," imbuhnya.

Baca juga: Kisah William Buntoro Didiagnosis Alzheimer, Berawal dari Lupa Jalan Pulang

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.