Kompas.com - 24/05/2022, 09:03 WIB

KOMPAS.com - Saat suasana hati sedang buruk, atau saat sedih Anda mungkin mengekspresikannya dengan cara menangis.

Pasalnya, setelah meneteskan air mata, perasaan akan menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Ternyata, menangis memiliki banyak manfaat bagi kesehatan psikologis kita sebagai manusia. Misteri Tubuh Manusia kali ini, akan membahas lebih dalam terkain hal ini.

Menurut associate professor di University of Melbourne, Peggy Kern, air mata yang dikeluarkan saat menangis bertindak sebagai indikator fisik dari kondisi emosi seseorang.

Baca juga: Kenapa Kepala Pusing Setelah Menangis?

Air mata juga bisa keluar ketika dihadapkan dengan kondisi lain, misalnya saja ketika terlalu gembira. Di dalam otak manusia, kata Kern, emosi yang kuat mengaktifkan jaringan otonom pusat.

Jaringan ini terdiri dari dua bagian, antara lain sistem simpatis yang mengaktifkan respons melawan-atau-lari ketika dihadapkan dengan bahaya. Selanjutnya adalah sistem saraf parasimpatis, yang mengembalikan tubuh menuju keadaan tenang.

"Emosi yang kuat mengaktifkan bagian simpatik dari sistem ini, tetapi ketika kita menangis, bagian parasimpatis diaktifkan dan membuat kita merasa lebih baik," terang Kern seperti dilansir dari Science Alert, Sabtu (21/5/2022).

Ia menjelaskan bahwa manusia dilatih sejak kecil untuk mengendalikan maupun mengekspresikan emosi, sesuai dengan keadaan sekitar. Sehingga, Anda mampu menahan diri untuk menangis di hadapan orang lain.

"Menangis saat menonton film sedih boleh saja, tetapi menangis di tempat kerja biasanya kurang bisa diterima," imbuhnya.

Menangis umumnya dilakukan ketika sedang tertekan, atau stres menghadapi kondisi tertentu.

Dijelaskan Kern, menangis saat stres sebenarnya membantu Anda mengatur respons emosional untuk menangani emosi dengan cara yang terkendali. Saat ini terjadi, struktur penting di otak yang disebut korteks prefrontal berperan untuk menjaga sistem agar tetap terjaga. 

Baca juga: Mengapa Kita Menangis Saat Sedih?

Namun, semakin stres dan lelah dalam waktu yang lama, sistem simpatik tetap aktif. Akibatnya, korteks prefrontal diharuskan untuk bekerja lebih keras dari sebelumnya.

Dengan demikian, kemampuan otak untuk mengatur emosi menurun secara signifikan. Pada akhirnya, hal itu dapat menyebabkan respons emosional yang dapat diamati seperti keluarnya air mata atau kemarahan.

"Kita mungkin bahkan tidak menyadari, betapa kelelahannya kita sampai air mata mengalir di wajah setelah insiden atau pengalaman yang tampaknya sepele," ujar Kern.

Di luar alasan psikologis, mengeluarkan air mata dapat membantu menciptakan maupun mempertahankan ikatan sosial.

Sebab, air mata merupakan tanda permintaan tolong dengan menunjukkan kepada orang lain, bahwa kita tidak baik-baik saja dan membutuhkan dukungan.

"Air mata sering menimbulkan perasaan simpati pada orang lain, membantu kita terhubung dengan mereka. Menangis juga terjadi ketika kita merasakan simpati yang mendalam untuk orang lain, menangis bersama mereka, yang semakin memperkuat ikatan sosial," tuturnya.

Baca juga: Misteri Tubuh Manusia: Apa Yang Terjadi saat Kita Menangis?

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.