Kompas.com - 23/05/2022, 18:05 WIB

KOMPAS.com - Diabetes melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi, yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin.

Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Lengarhens kelenjar pankreas atau disebabkan kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin.

Pemeriksaan diabetes melitus dapat dilakukan dengan tes gula darah. Bukan hanya satu tes yang bisa dilakukan akan tetapi beberapa tes bisa menentukan tingkat gula dalam darah.

Baca juga: Mengenal Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2, Apa Bedanya?

Seringkali diabetes muncul tanpa gejala, tapi ada beberapa gejala yang harus diwaspadai sebagai syarat kemungkinan terkena diabetes.

Gejala tipikal yang sering dirasakan penderita diabetes antara lain poliuria (sering buang air kecil), polidipsia (sering haus), dan polifagia (banyak makan atau mudah lapar).

Selain itu, sering pula muncul keluhan penglihatan kabur, koordinasi gerak anggota tubuh terganggu, kesemutan pada tangan atau kaki, timbul gatal-gatal pada kulit yang seringkali sangat mengganggu (pruritus), dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas.

Terdapat dua jenis diabetes, yaitu diabetes melitus tipe 1 dan diabetes melitus tipe 2.

Pada diabetes melitus tipe 1, gejala klasik yang umum dikeluhkan yaitu poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, cepat merasa lelah (fatigue), iritabilitas, dan pruritus.

Sedangkan gejala yang umum dikeluhkan pasien diabetes melitus tipe dua, hampir tidak ada. Ini seringkali muncul tanpa diketahui, dan penanganan baru dimulai beberapa tahun setelah penyakit telah berkembang dan komplikasi sudah terjadi.

Penderita diebetes tipe 2 umumnya lebih mudah terkena infeksi, sulit sembuh dari luka, daya penglihatan makin buruk, dan umumnya menderita hipertensi, hiperlipidemia, obesitas, serta komplikasi pada pembuluh darah dan syaraf.

Baca juga: Mengenal Diabetes Gestasional, dari Gejala, Penyebab, hingga Faktor Risiko

Orang dengan diabetes harus berhati-hati dengan kakinya

Melansir informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), masalah kaki merupakan penyebab penting dari komplikasi pada individu dengan diabetes.

Pada pasien diabetes, sirkulasi darah di tungkai dan kaki dapat menjadi buruk dan menyebabkan jaringan saraf di kaki rusak, sensasi rasa sakit berkurang, sehingga kaki dapat terluka tanpa penderita menyadarinya.

Selain itu, nutrisi ke jaringan kaki berkurang, sehingga luka di kaki sulit sembuh.

Masalah kaki pada pasien diabetes lebih berisiko pada beberapa kelompok berikut:

  • Usia lebih dari 40 tahun
  • Menggunakan beberapa bentuk tembakau, baik merokok atau tembakau kunyah
  • Mengalami penurunan sensasi dan aliran darah ke tungkai dan telapak kaki
  • Cacat anatomis
  • Riwayat ukus kaki
  • Riwayat amputasi

Luka kecil yang tersembunyi di bawah kaki dapat cepat berkembang menjadi luka besar yang parah. Luka dan infeksi yang terlanjur parah dapat menyebabkan dilakukannya amputasi kaki.

Baca juga: Indonesia Peringkat ke-5 Negara dengan Penderita Diabetes Terbesar di Dunia

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.