Kompas.com - 17/05/2022, 20:29 WIB

KOMPAS.com - Hari Hipertensi Sedunia 2022 atau World Hypertension Day, diperingati di tanggal 17 Mei setiap tahunnya.

Momentum ini dirayakan untuk menyadarkan masyarakat, mengenai pentingnya mengetahui penyebab, gejala, faktor risiko, hingga cara mencegah tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan hipertensi sebagai kondisi yang terjadi ketika tekanan sistol terukur lebih dari 140 mmHg, dan tekanan diastol terukur lebih dari 90 mmHg.

Baca juga: Kapan Seseorang Dikatakan Hipertensi? Kenali Gejalanya

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Rabu (17/5/2017) angka kejadian atau prevalensi hipertensi akan terus meningkat. Diprediksi sebanyak 25 persen orang dewasa di seluruh dunia, akan mengalami hipertensi di tahun 2025 mendatang.

Penyakit ini juga telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun, di mana 1,5 juta kematian terjadi di Asia Tenggara, yang sepertiga populasinya menderita hipertensi.

Adapun hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, diabetes, gagal ginjal, serta kebutaan.

Data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014 menunjukkan, hipertensi disertai komplikasi merupakan penyebab kematian nomor lima pada semua usia.

Dijelaskan Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi sekaligus Advisory Board Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia Prof. dr. Rully M.A. Roesli, Sp.PD-KGH, PhD, hipertensi bisa terjadi pada siapa saja terlepas dari usia.

Meski risiko ini lebih rendah bagi orang berusia muda, tidak berati bahwa kelompok usia ini tidak akan pernah terkena hipertensi.

Sebab, berdasaran data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 sebanyak 15 persen orang berusia 25 tahun sudah terkena hipertensi.

"Memang, pada orang tua umur 75 tahun ke atas risikonya lebih tinggi. Tapi pada orang muda 25 tahun udah ada yang hipertensi. Jadi enggak benar penyakit orang tua, (hipertensi) penyakit semua umur," ujar Rully dalam webinar, Selasa (17/7/2022).

Pada kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia dr Erwinanto, Sp.JP(K),FIHA, mengungkapkan hal senada terkait hipertensi bisa dialami sejak usia muda.

Kondisi ini, katanya disebabkan karena berbagai hal termasuk gaya hidup, lingkungan, dan kebiasaan sehari-hari.

"Ada perubahan dari yang dulunya penyakit orang tua, sekarang turun menjadi penyakit lebih muda dan itu adalah karena lingkungan, habit, karena sikap hidup, jadi itu yang ingin kita ubah," tutur Erwinanto.

Baca juga: Disebut Silent Killer, Kenali Gejala dan Penyebab Hipertensi

 

Oleh sebab itu, penting bagi kita mengetahui faktor risiko hipertensi yang bisa menyerang tak hanya pada orang tua, tetapi juga mereka yang berusia muda.

Adapun beberapa faktor risiko hipertensi yang perlu diketahui, di antaranya:

  • Konsumsi garam berlebihan
  • Kegemukan
  • Obesitas
  • Kolesterol tidak terkontrol
  • Konsumsi minuman alkohol berlebihan
  • Diabetes
  • Tidur mengorok
  • Diet rendah serat
  • Kurangnya aktivitas fisik
  • Stres

"Banyak hal-hal yang menyebabkan hipertensi. Hal-hal seperti itu yang harus kita kendalikan supaya prevalensinya turun, beban negara enggak tinggi, uangnya bisa dipergunakan untuk hal lain," kata Erwinanto.

"Bagi masyarakatnya sendiri terhindar dari kemungkinan penyakit jantung, penyakit ginjal, dan stroke," sambungnya. 

Baca juga: Apakah Daging Kambing Dapat Sebabkan Hipertensi?

Cara mencegah hipertensi sejak dini

Bukan tidak mungkin, hipertensi dapat dicegah sedini mungkin untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit tidak menular tersebut.

Cara mencegah hipertensi yang utama adalah melakukan terapi intervensi gaya hidup, yang telah direncanakan sebelumnya.

Perubahan gaya hidup untuk mencegah hipertensi dapat dimulai dengan mengontrol asupan makanan seperti mengurangi garam, gula, minuman beralkohol, dan lemak jenuh.

Kemudian, konsumsilah buah dan sayur, dan lakukan olahraga teratur minimal 30 menit per hari dalam satu pekan.

Dokter Erwinanto menyarankan, agar lebih banyak konsumsi makanan dengan lemak tidak jenuh, seperti ikan yang memiliki nutrisi baik untuk tubuh.

Dengan begitu, indeks massa tubuh (IMS) akan tetap terkontrol, dan dapat membantu mencegah darah tinggi.

"Memperbaiki gaya hidup mudah megatakannya, tapi sulit melaksanakannya. Suatu saat kalau kamu sekarang hipertensi, tidak memperbaiki gaya hidup, pilih penyakit jantung, stroke, ginjal, atau sehat. Kalau ingin sehat ikuti saran dokter Erwin tadi," pungkas Rully.

 Baca juga: Penyebab Hipertensi, Kegemukan hingga Penyakit Ginjal Kronik

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.