Kompas.com - 10/04/2022, 09:03 WIB

KOMPAS.com - Data International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2021 menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-5 dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia.

Angka ini meningkat hampir dua kali lipat hanya dalam waktu dua tahun, dibandingkan tahun 2019 sebesar 10,7 juta.

Jumlah serangan diabetes di Indonesia mencapai 18 juta pada tahun 2020.

Pada saat itu, prevalensi kasus tersebut meningkat 6,2 persen dibandingkan tahun 2019.

Baca juga: Studi: Tingkat Penderita Diabetes dan Obesitas Rendah di Kota Ramah Pejalan Kaki

Dilaporkan bahwa sejak tahun 2014, diabetes adalah tiga tertinggi penyakit penyebab kematian di Indonesia.

Hal ini dianggap cukup mengkhawatirkan, karena diabetes merupakan 'ibu' dari berbagai penyakit serius yang bisa meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas pasien.

dr Syahidatul Wafa, Sp.PD, Staff Divisi Endrokin, Metabolik, dan Diabetes Departemen Penyakit Dalam RSCM- FKUI menyebutkan, diabetes adalah ibu atau biang dari segala penyakit.

“Jadi memang benar, fakta kalau diabetes adalah ibu dari segala penyakit,” kata dr Wafa dalam media briefing virtual #BeatDiabetes Online Festival 2022 Tropicana Slim, Kamis (7/4/2022).

Dijelaskan dr Wafa, diabetes disebut sebagai ibu dari segala penyakit karena penyakit ini memang bisa memicu atau menyebabkan berbagai komplikasi penyakit serius terjadi di tubuh penderitanya, baik yang bisa disembuhkan maupun penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat diabetes adalah stroke, gagal ginjal, pembuluh darah pecah ke otak, penyakit kardiovaskular, masalah di gigi dan mulut, serta masih banyak lagi.

Brand Manager Tropicana Slim, Noviana Halim menyampaikan, risiko komplikasi kesehatan ini dapat ditekan, jika kadar gula darah dikontrol dengan baik.

Itulah mengapa, penting sekali menjaga kestabilan gula darah pada diabetesi dengan menjaga berat badan, pola makan sehat dan rutin berolahraga.

“Oleh karena itu, Tropicana Slim juga mengajak masyarakat Indonesia bersama-sama untuk terus mencegah dan melawan penyakit diabetes melalui kampanye #Beat Diabetes2022,” ajaknya.

Baca juga: Cara Menjaga Gula Darah Penderita Diabetes Tetap Terkendali Selama Puasa

 

Faktor risiko tingginya penderita diabetes Indonesia

Dr Wafa mengatakan, tingginya penderita diabetes di Indonesia ini sangat mungkin karena adanya riwayat keturunan dan pola gaya hidup.

Sebab, memiliki riwayat keturunan diabetes sangat erat berkaitan dengan risiko diabetes yang lebih tinggi.

“Risiko keturunan diabetes yang kedua orangtuanya memiliki diabetes adalah 6.1 kali lebih tinggi,” ujarnya.

Tidak hanya itu, obesitas juga menjadi salah satu faktor risiko diabetes.

Baca juga: Ilmuwan Ungkap Penyebab Utama Diabetes Melitus

Data dari penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Diabetologia di tahun 2020 menyebutkan, bahwa walaupun memiliki faktor risiko diabetes secara genetik yang rendah dan gaya hidup yang baik, mereka yang mengalami obesitas diketahui memiliki risiko diabetes yang lebih tinggi sebesar 8 kali lipat, dibandingkan dengan mereka yang memiliki berat badan normal.

Sementara, obesitas terjadi disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, seperti kebiasaan makan makanan tinggi gula dan lemak, dan jarang berolahraga fisik.

Umumnya penderita obesitas mengalami penumpukan lemak akibat kadar kolesterol yang tinggi. Mereka cenderung memiliki kalori yang masuk ke dalam tubuh lebih banyak daripada yang dibakar melalui olahraga dan kegiatan normal sehari-hari.

Hal ini ditambahkan oleh Founder Sobat Diabet, dr Rudy Kurniawan Sp.PD. Dip.TH dalam kesempatan yang sama.

Pola hidup sehat menjadi kunci utama dalam mencegah dan menurunkan risiko diabetes,” ujarnya.

Penelitian pada The American Journal of Clinical Nutrition (2020) menemukan, bahwa menjalankan pola hidup sehat dapat berkaitan dengan penurunan tingkat kejadian diabetes hingga 60 persen.

Adapun yang termasuk sebagai pola hidup sehat pada penelitian ini adalah memiliki berat badan dan lingkar pinggang normal, tidak merokok, memiliki tingkat aktivitas fisik yang tinggi, menjalankan pola makan sehat yakni dengan mengonsumsi sayur, buah dan bijian frekuensi tinggi, serta rendah konsumsi daging.

Baca juga: Efek Diabetes pada Tubuh dan Cara Mencegahnya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

Oh Begitu
Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

Oh Begitu
Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

Kita
Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

Oh Begitu
Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

Prof Cilik
Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

Oh Begitu
Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

Oh Begitu
Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

Oh Begitu
Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

Oh Begitu
Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

Oh Begitu
Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

Oh Begitu
Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

Kita
5 Objek Paling Terang di Tata Surya

5 Objek Paling Terang di Tata Surya

Oh Begitu
Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

Fenomena
Trenggiling Makan Apa?

Trenggiling Makan Apa?

Oh Begitu
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.