Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 02/04/2022, 19:31 WIB
The Conversation,
Shierine Wangsa Wibawa

Tim Redaksi

Oleh: Dian P Triani

GALAKSI Bimasakti adalah rumah untuk Tata Surya kita. Matahari, sebagai bintang induk Tata Surya memiliki gravitasi yang cukup kuat untuk mengikat delapan planet yang kita ketahui, dan benda kecil lainnya seperti planetoid, asteroid, meteoroid, dan komet.

Berdasarkan jaraknya dari Matahari, delapan planet tersebut adalah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Meski tampak besar dan merupakan sumber energi utama Bumi, sebenarnya Matahari adalah bintang yang cukup umum ditemukan di Bimasakti. Ia tampak besar karena jaraknya paling dekat dengan Bumi.

Di galaksi Bimasakti sendiri ada sekitar 100 miliar bintang! Banyak dari bintang tersebut yang memiliki ukuran dan energi yang jauh lebih besar dari Matahari. Posisi Matahari pun bukan di pusat galaksi Bimasakti, melainkan di salah satu lengan spiralnya.

Baca juga: Bimasakti Hampir Hilang dari Pandangan Mata, Saatnya Memerangi Polusi Cahaya

NASA Posisi Matahari di Bimasakti

Bintang-bintang selain Matahari di galaksi Bimasakti juga banyak yang memiliki sistem keplanetan seperti tata surya. Hanya saja, karena jarak bintang-bintang ini sangat jauh dari kita, tidak semua dapat dideteksi dari Bumi.

Sejauh ini, ada lebih dari 4 ribu planet di luar tata surya yang sudah dikonfirmasi di Bimasakti. Planet-planet ini dikenal dengan sebutan eksoplanet.

Bintang tetangga terdekat kita, Proxima Centauri, kemungkinan dikelilingi oleh tiga planet (planet proxima b, c dan d). Proxima b memiliki ukuran yang serupa dengan Bumi dan mengitari Proxima Centauri satu kali setiap 11 hari.

Berdasarkan jarak antara Proxima b dengan bintangnya, planet ini berada pada zona yang memungkinkan adanya air dalam bentuk cair, yang biasa disebut “habitable zone”. Meski demikian, astronom masih terus mengamati planet Proxima c dan d untuk mengkonfirmasi keberadaannya.

Meski Proxima Centauri adalah bintang yang paling dekat dengan matahari, tapi jaraknya masih terhitung sangat jauh jika dihitung dengan satuan yang kita kenal di Bumi, yaitu 4,2 tahun cahaya atau 39 trilliun kilometer!

Baca juga: Dari Kicauan di Twitter, Ilmuwan Ungkap Adanya Struktur X Misterius di Bimasakti

Diameter galaksi Bimasakti sendiri jauh lebih besar dari itu, yaitu sekitar 100.000 tahun cahaya. Makanya, untuk mendeteksi sistem keplanetan di luar tata surya, dibutuhkan berbagai teknik dengan presisi yang tinggi. Astronom di berbagai negara saat ini masih mengembangkan beragam metode deteksi, sehingga pencarian eksoplanet ini masih merupakan subjek riset yang aktif dilakukan.

Suatu galaksi adalah sistem yang terdiri dari miliaran bintang yang terikat oleh gaya gravitasi dan mengitari pusatnya. Waktu yang dibutuhkan oleh Matahari dan Tata Surya untuk menuntaskan satu putaran mengitari Bimasakti adalah sekitar 225-250 juta tahun. Periode ini dikenal juga dengan satu tahun galaktik.

Lalu apa yang ada di pusat Bimasakti? Ialah sebuah lubang hitam dengan massa yang sangat besar (supermassive black hole) yang dikenal dengan nama Sagittarius A*.

Lubang hitam adalah benda langit yang memiliki gravitasi yang sangat besar sehingga tidak ada yang bisa lolos dari tarikan gravitasinya, termasuk cahaya. Tidak main-main, massa dari Sagittarius A* ini mencapai sekitar empat juta kali massa matahari. Karena gravitasi lubang hitam Sagittarius A* ini sangat besar, ia mampu menarik 100 miliar bintang di Bimasakti untuk mengitarinya.

Di sekitar pusat galaksi, terdapat benjolan tebal, atau dikenal dengan “bulge”, yang terdiri dari bintang, debu dan gas yang lebih rapat. Di luar benjolan inilah bintang-bintang menghuni lengan spiral yang lebih tipis, termasuk matahari.

Dian P Triani

Astrophysics Researcher, Australian National University

Artikel ini tayang di Kompas.com berkat kerja sama dengan The Conversation Indonesia. Tulisan di atas diambil dari artikel asli berjudul "Curious Kids: apa yang menjadi pusat dari galaksi Bimasakti?". Isi di luar tanggung jawab Kompas.com.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com