Kompas.com - 30/03/2022, 19:01 WIB


KOMPAS.com - Burung hantu yang selama ini hanya menampakkan diri di malam hari, namun ternyata pada enam juta tahun yang lalu hewan ini justru aktif di siang hari.

Kesimpulan tersebut di dapat setelah tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Li Zhiheng dan Dr. Thomas Stidham dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology (IVPP) dari Chinese Academy of Sciences menemukan kerangka fosil burung hantu yang sudah punah di China.

Fosil burung hantu yang masih terpelihara dengan baik ini menunjukkan bahwa burung hantu aktif di siang hari, bukan di malam hari.

Temuan studi burung hantu aktif di siang hari pada enam juta tahun yang lalu ini pun telah dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), Senin (28/3/2022).

Burung hantu yang kemudian diberi nama Miosurnia diurna ini menjadi catatan pertama dari burung hantu purba yang diural atau aktif di siang hari.

Mengutip Phys, Selasa (29/3/2022) fosil burung hantu tersebut ditemukan di endapan yang berasal dari Zaman Miosen akhir di Cekungan Linxia, provinsi Gansu, di tepi Dataran Tinggi Tibet pada ketinggian lebih dari 2100 meter.

Baca juga: 48 Juta Tahun Lalu, Burung Hantu Berburu pada Siang Hari

Endapan mengawetkan hampir seluruh kerangka burung hantu jutaan tahun lalu, mulai dari ujung tengkorak melalui sayap dan kaki hingga tulang ekor berserta bagian-bagian tubuh yang jarang terlihat.

Misalnya saja tulang lidah yang disebut hyoid, trakea, tempurung lutut, tendon untuk otot sayap dan kaki, bahkan sisa makanan terakhirnya berupa mamalia kecil.

Lalu bukti apa yang membuat peneliti berpendapat bahwa, Miosurnia diurna, nenek moyang burung hantu aktif di siang hari?

Dalam studinya, peneliti menganalisis tulang-tulang sklera atau tulang-tulang kecil yang membentuk cincin di sekitar pupil dan iris di bagian luar mata.

Hewan nokturnal membutuhkan mata yang lebih besar secara keseluruhan dan pupil yang lebih besar pula untuk melihat dalam kondisi cahaya redup. Akan tetapi, hewan diurnal memiliki mata dan pupil yang lebih kecil.

Meski bagian lunak mata Miosurnia diurna telah membusuk sejak lama, tetapi peneliti dapat mengukur tulang kecil burung hantu tersebut untuk mengetahui bentuk cicin di sekitar mata.

Setelah peneliti berhasil menyatukan kembali tulang-tulang yang diduga adalah fosil burung hantu itu, peneliti selanjutnya membandingkan tulang dengan mata 55 spesies reptil dan lebih dari 360 spesies burung.

Baca juga: Ternyata Ini Kekuatan Super Penglihatan Burung Hantu di Malam Hari

Halaman:


Video Pilihan

Sumber PHYSORG
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.