Kompas.com - 28/03/2022, 07:05 WIB

KOMPAS.com - Letusan gunung berapi bawah laut di Tonga pada awal tahun 2022 dilaporkan mengirimkan gelombang ke atmosfer 300 kilometer di atas permukaan bumi.

Para ilmuwan menyebutkan, letusan Gunung Hunga Tonga-Hunga Ha'apai di Tonga itu menyebabkan gangguan yang serupa dengan dampak dari badai matahari parah.

Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Astronomy and Space Sciences, tim ilmuwan telah menganalisis data rekaman milik 5.000 sistem satelit navigasi yang tersebar di seluruh dunia.

Baca juga: Letusan Gunung Berapi Bawah Laut Tonga Pecahkan Dua Rekor, Apa saja?

Sekelompok ilmuwan, termasuk tim dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat, mengamati adanya gelombang atmosfer yang dihasilkan letusan gunung di Tonga, serta jejaknya di lapisan ionosfer bumi.

Untuk diketahui, lapisan ionosfer adalah salah satu lapisan pelindung bumi atau atmosfer yang molekulnya mengalami ionisasi.

Kondisi itu disebabkan sinar matahari yang panas membuat gas di dalam ionosfer kehilangan elektron, kemudian berubah menjadi partikel bermuatan listrik sebagai reaksi ionisasi.

Gelombang tersebut diketahui masih aktif selama empat hari setelah letusan gunung berapi bawah laut Tonga, dan mengelilingi seluruh wilayah di dunia hingga tiga kali.

Sementara itu, para ilmuwan di Amerika Serikat menuturkan gangguan gelombang di lapisan ionosfer melewati negara itu sebanyak enam kali, dari arah barat menuju timur dan sebaliknya.

Menurut studinya, para ilmuwan mengatakan bahwa temuannya menjelaskan bagaimana gelombang atmosfer dan ionosfer global bisa terhubung.

“Studi ini memberikan bukti pertama yang substansial dari jejak jangka panjang mereka (material letusan gunung di Tonga) di ionosfer secara global,” kata para ilmuwan, seperti dilansir Independent, Sabtu (26/3/2022).

Sebelumnya, peneliti telah menemukan abu dari letusan gunung berapi bawah laut yang memutus komunikasi Tonga dari seluruh dunia mencapai lapisan mesosfer bumi.

Mesosfer adalah lapisan atmosfer ketiga, antara stratosfer dan termosfer yang membentang dari sekitar 50 kilometer hingga 85 kilometer di atas permukaan bumi.

Tim juga menduga bahwa gangguan itu mungkin disebabkan adanya gelombang Lamb, yang bergerak dengan kecepatan suara secara global tanpa banyak mengurangi amplitudo.

Baca juga: Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.