WHO: Subvarian Omicron BA.2 yang Dikenal Varian Siluman Masuk Variant of Concern, Masyarakat Harus Waspada

Kompas.com - 23/02/2022, 12:05 WIB

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menyatakan, bahwa varian Omicron merupakan variant of concern (VoC), begitu pula pada garis keturunannya.

Berdasarkan data transmisi, keparahan penyakit, infeksi ulang, diagnostik, terapi, serta efektivitas vaksin Covid-19, WHO menyampaikan bahwa subvarian BA.2 yang juga dikenal sebagai varian siluman harus terus dianggap sebagai VoC.

Dilansir dari laman resmi WHO, Selasa (22/2/2022) hal itu disampaikan Kelompok Penasihat Teknis WHO tentang Evolusi Virus SARS-CoV-2 (TAG-VE) setelah meninjau kembali varian Omicron.

Baca juga: Subvarian BA.2 Omicron Meningkat, Studi Ungkap Tanda-tanda Keparahan

Selain itu, mereka juga menegaskan bahwa subvarian yang dijuluki 'siluman' ini harus terus dipantau secara intensif oleh otoritas kesehatan masyarakat di dunia.

"Varian Omicron yang menjadi perhatian saat ini merupakan varian dominan yang beredar secara global, terhitung hampir semua sekuensing yang dilaporkan ke GISAID," tulis WHO dalam keterangan resminya.

"Omicron terdiri dari beberapa sub keturunan, masing-masing dipantau oleh WHO dan mitra (peneliti). Subvarian yang paling umum adalah BA.1, BA.1.1, dan BA.2," lanjutnya.

WHO menjelaskan bahwa BA.2 cenderung berbeda dari BA.1 dalam urutan genetiknya, dan memiliki beberapa perbedaan asam amino dalam spike protein maupun protein lainnya.

"Penelitian telah menunjukkan bahwa BA.2 memiliki pertumbuhan yang cepat dibandingkan BA.1," kata WHO.

Kini, mereka tengah melakukan riset lebih lanjut untuk mendalami karakteristik virus yang disebut 'Son of Omicron' itu. Adapun laporan awal menemukan, subvarian BA.2 ditengarai lebih menular daripada BA.1, yang saat ini tetap menjadi sub keturunan dominan.

Pihaknya pun mencatat terjadi penurunan kasus Covid-19 secara global, terlepas dari subvarian Omicron yang saat ini beredar luas.

Pada kesempatan ini, TAG-VE juga melihat data secara global terkait tingkat keparahan klinis dari Afrika Selatan, Inggris, dan Denmark, yang memiliki tingkat kekebalan dari vaksinasi atau infeksi alami tinggi. Hasilnya, tidak ada perbedaan tingkat keparahan penyakit yang dilaporkan antara BA.2 dan BA.1.

"Bersama dengan kelompok penasihat WHO, dari berbagai negara, kami tidak melihat adanya perbedaan terkait keparahan pada BA.1 jika dibandingkan BA.2," ungkap pimpinan teknis Covid-19 WHO, Maria Van Kerkhove seperti dikutip dari Twitter resmi WHO, Rabu (23/2/2022).

Dia menambahkan, jika dilihat dari tingkat keparahan kedua subvarian Omicron cenderung sama, terutama pada risiko rawat inap.

"Informasi ini sangat penting, karena di banyak negara peredarannya cukup besar, baik BA.1 maupun BA.2," terangnya.

Baca juga: 3 Fakta BA.2, Subvarian Virus yang Dijuluki Son of Omicron

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber WHO
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bunga Bangkai Tumbuh di Bekasi, Ahli Sebut Jenis Suweg

Bunga Bangkai Tumbuh di Bekasi, Ahli Sebut Jenis Suweg

Oh Begitu
Tampilan Fisik Burung Ruff Jantan Mirip Betina, Bagaimana Cara Mereka Kawin?

Tampilan Fisik Burung Ruff Jantan Mirip Betina, Bagaimana Cara Mereka Kawin?

Oh Begitu
BKKBN: Angka Kematian Ibu dan Bayi Masih Jadi Ancaman SDM di Indonesia

BKKBN: Angka Kematian Ibu dan Bayi Masih Jadi Ancaman SDM di Indonesia

Kita
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem 16-17 Agustus 2022, Ini Wilayah yang Harus Waspada

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem 16-17 Agustus 2022, Ini Wilayah yang Harus Waspada

Fenomena
Virus Cacar Monyet Ditemukan pada Sampel Dubur Pasien Tanpa Gejala

Virus Cacar Monyet Ditemukan pada Sampel Dubur Pasien Tanpa Gejala

Fenomena
Belalang Bisa Mencium Sel Kanker pada Manusia, Begini Penjelasan Sains

Belalang Bisa Mencium Sel Kanker pada Manusia, Begini Penjelasan Sains

Oh Begitu
Ancaman Jakarta Tenggelam, Pemindahan IKN Saja Tak Akan Mencegahnya

Ancaman Jakarta Tenggelam, Pemindahan IKN Saja Tak Akan Mencegahnya

Oh Begitu
Hilangnya Serangga Sebabkan Sepertiga Tanaman Pangan Terancam

Hilangnya Serangga Sebabkan Sepertiga Tanaman Pangan Terancam

Fenomena
Overthinking dan Berpikir Keras Bisa Bikin Lelah, Sains Jelaskan Penyebabnya

Overthinking dan Berpikir Keras Bisa Bikin Lelah, Sains Jelaskan Penyebabnya

Oh Begitu
Cuaca Panas Berisiko Tingkatkan Kanker Kulit, Ini Kata Dokter

Cuaca Panas Berisiko Tingkatkan Kanker Kulit, Ini Kata Dokter

Oh Begitu
Bahaya Merokok dalam Rumah, Ini Cara Wujudkan Tempat Tinggal Bebas Asap Rokok

Bahaya Merokok dalam Rumah, Ini Cara Wujudkan Tempat Tinggal Bebas Asap Rokok

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Viral Wanita Curi Cokelat di Alfamart | WHO Ganti Nama Cacar Monyet | Cerita Kejahatan di Kehidupan Nyata | Gelombang Tinggi 6 Meter

[POPULER SAINS] Viral Wanita Curi Cokelat di Alfamart | WHO Ganti Nama Cacar Monyet | Cerita Kejahatan di Kehidupan Nyata | Gelombang Tinggi 6 Meter

Oh Begitu
Ilmuwan Deteksi Sambaran Petir Paling Kuat dan Langka, Seperti Apa?

Ilmuwan Deteksi Sambaran Petir Paling Kuat dan Langka, Seperti Apa?

Fenomena
Bantu Ahli Deteksi Potensi Penyakit di Masa Depan, Menkes Budi Luncurkan BGSi

Bantu Ahli Deteksi Potensi Penyakit di Masa Depan, Menkes Budi Luncurkan BGSi

Oh Begitu
Suku Maya Gunakan Abu Kremasi Manusia untuk Bikin Bola Karet, Studi Jelaskan

Suku Maya Gunakan Abu Kremasi Manusia untuk Bikin Bola Karet, Studi Jelaskan

Fenomena
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.