Kompas.com - 11/02/2022, 21:02 WIB
Penulis Lulu Lukyani
|

KOMPAS.com - Wabah tertawa mungkin terdengar tidak berbahaya. Tetapi, faktanya, wabah tertawa tidak sesederhana itu.

Dalam konteks ini, tawa bukan hanya suara gembira, ia bisa menjadi tanda kesusahan yang didorong oleh kemarahan atau kesedihan.

Wabah tertawa Tanzania (saat itu Tanganyika) yang terjadi pada tahun 1962 merupakan fenomena yang tak hanya unik, tetapi juga memunculkan banyak pertanyaan.

Penyebab wabah tertawa Tanzania

Dilansir dari Atlas Obscura, wabah tertawa dimulai di sekolah perempuan yang kemudian menyebar ke komunitas lain.

Wabah ini menularkan tawa tak terkendali yang memengaruhi sekitar 1.000 orang, berlangsung beberapa bulan, dan menyebabkan penutupan sementara 14 sekolah.

Baca juga: Ilmuwan Jelaskan Wabah Zombi dari Sudut Pandang Sains

Sebagian besar kasus penyakit psikogenik massal dimulai dengan satu individu. 

Dalam kasus ini, seorang siswi kemungkinan besar tertawa terbahak-bahak, menimbulkan efek berantai hingga gadis-gadis di sekitarnya juga ikut tertawa.

Gejala penderitanya berupa serangan berulang dari tertawa dan menangis yang berlangsung selama beberapa jam hingga 16 hari. 

Tak hanya tertawa, serangan ini disertai dengan kegelisahan, lari tanpa tujuan, dan terkadang kekerasan.

Christian Hempelmann dari Texas A&M University telah melakukan penelitian tentang wabah tertawa ini. 

Baca juga: Alat Infus Ditemukan sebagai Terapi Intravena Saat Wabah Kolera

Hempelmann menjelaskan wabah tertawa sebagai kasus penyakit psikogenik atau sosiogenik massal, yakni penyakit yang dapat menyerang dalam berbagai pengaturan stres tinggi. 

Faktor stres di kasus ini mungkin termasuk harapan yang dikenakan di sekolah-sekolah Tanzania yang dikelola Inggris dan ketidakpastian kemerdekaan Tanganyika.

Penyakit psikogenik

Menurut Hempelmann, penyakit psikogenik memiliki semua jenis gejala saraf dan tawa hanyalah salah satunya. 

Meskipun kasus Tanzania ini sudah ditutup, kasus serupa dari penyakit psikogenik massal terjadi di antara kelompok orang yang tidak mampu melepaskan diri dari situasi stres.

Dalam situasi seperti ini, orang tersebut tidak memiliki kekuatan untuk mengatasi stres dan tidak dapat memberikan respons terhadap lain.

Baca juga: 5.200 Burung Bangau Mati akibat Wabah Flu Burung di Israel

“Mereka harus mengekspresikan dirinya secara fisik, yang memberi cara untuk mengatakan 'lihat aku menderita',” jelas Hempelmann. 

"Ini tidak gila seperti yang orang pikirkan." 

Penelitian tentang tertawa

Bidang penelitian tentang tertawa, yang dikenal sebagai gelotologi, mencoba menjelaskan manfaat tertawa bagi pikiran dan tubuh.

Tertawa telah dikaitkan dengan berkurangnya hormon stres dan peningkatan endorfin, yang pada gilirannya dapat memberikan bantuan fisik dan psikologis.

Sejauh gagasan terakhir ini, Hempelmann mengatakan bahwa itu adalah teori humor Freudian klasik. 

"Kita membangun beberapa tekanan psikis magis dan tawa memungkinkan kita melepaskannya." 

Baca juga: CDC Laporkan Wabah Salmonella yang Berasal dari Bawang Impor

Hempelmann tidak berpikir itu adalah teori yang baik untuk menjelaskan peran tawa dan bagaimana humor bekerja. 

“Secara statistik, dalam konteks ini, ini tidak merilis apa pun. Orang-orang ini menderita dan mereka mengekspresikan penderitaan melalui tawa".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.