Kompas.com - 28/01/2022, 18:30 WIB

KOMPAS.com - Seekor monyet yang sebelumnya dinyatakan punah, baru-baru ini muncul kembali di kawasan gunung berapi Gunung Popa, di Myanmar.

Monyet yang dijuluki monyet hantu ini termasuk ke dalam spesies baru lutung Popa, dan ditemukan berdasarkan pencocokan genetik tulang dengan spesimen dari Museum Sejarah Alam Inggris yang dikumpulkan lebih dari satu abad yang lalu.

Dilansir dari CNA, Rabu (26/1/2022) monyet ini memiliki karakteristik utama yang membedakannya dengan jenis monyet lainnya, yaitu memiliki lingkaran berwarna putih lebar di sekitar mata serta mempunyai kumis yang mengarah ke depan.

Bekerja sama dengan Fauna and Flora International (FFI), World Wildlife Fund (WWF) berhasil merekam monyet yang pernah punah itu menggunakan kamera di tahun 2018. Kemudian, FFI melaporkan penemuan spesies langka itu pada akhir tahun lalu.

Baca juga: Monyet Salju Jepang Cari Makan dengan Memancing, Studi Jelaskan

Dalam laporannya, peneliti menuturkan bahwa monyet hantu adalah kandidat spesies yang sangat terancam punah dalam Red List of the International Union for Conservation of Nature (IUCN), organisasi internasional untuk konservasi sumber daya alam.

Pasalnya, saat ini hanya terdapat 200 hingga 250 ekor monyet yang diperkirakan masih bertahan hidup di alam liar.

Wilayah Mekong yang menjadi tempat ditemukannya lutung Popa adalah pusat keanekaragaman hayati dan rumah bagi harimau, gajah Asia, serta saola yakni hewan yang sangat langka dikenal dengan nama unicorn Asia atau spindelhorn.

Selain itu, WWF juga menemukan lusinan reptil seperti kadal air bertanduk, katak kepala besar di Vietnam dan Kamboja, ikan, tokek batu di Thailand dan spesies tanaman bambu sukulen yang diketahui hanya ditemukan di Laos.

Temuan ini, kata WWF, termasuk ke dalam 224 spesies baru yang ditemukan di wilayah Mekong Raya pada tahun 2020. Sejauh ini, para ilmuwan telah mengidentifikasi lebih dari 3.000 spesies baru di kawasan itu sejak 1997.

"(Sebanyak) 224 penemuan menandakan keanekaragaman hayati di wilayah Mekong, yang meliputi Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam, yang merupakan bukti dalam bertahan hidup di habitat alami yang terfragmentasi dan terdegradasi," papar WWF.

Dijelakan tim, mereka menggunakan pengukuran dan sampel dari koleksi museum untuk membandingkan dan mengidentifikasi perbedaan utama dengan fitur hewan dan tumbuhan yang baru ditemukan.

"Dengan mempelajari perbedaan seperti itu dapat membantu menentukan perkiraan spesies dan ancaman terhadap kelangsungan hidup mereka," ujar Thomas Ziegler, kurator dari Institute of Zoology di University of Cologne.

Baca juga: Saling Jaga di Dunia Hewan, Monyet Betina Peringatkan Jantan Saat Ada Predator

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Sumber CNA
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.