Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kompas.com - 26/01/2022, 17:30 WIB
Suasana upacara kremasi Wiyanto Halim (89), kakek yang tewas dikeroyok karena dituduh maling. Upacara kremasi digelar pada Selasa (25/1/2022) di rumah duka Grand Heaven, Pluit, Jakarta Utara. ISTIMEWASuasana upacara kremasi Wiyanto Halim (89), kakek yang tewas dikeroyok karena dituduh maling. Upacara kremasi digelar pada Selasa (25/1/2022) di rumah duka Grand Heaven, Pluit, Jakarta Utara.

KOMPAS.com - Akibat salah tuduh, seorang kakek berinisial HM (89) yang diteriaki maling, berujung tewas dikeroyok massa yang main hakim sendiri pada Minggu (23/1/2022).

Peristiwa yang terjadi di Jalan Pulo Kambing Raya, Cakung, Jakarta Timur ini sempat viral di berbagai platform media sosial, sampai akhirnya diselidiki oleh kepolisian.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan mengungkapkan, polisi sudah melakukan penyelidikan dengan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa 14 orang saksi. 

Baca juga: Kakek Tewas Dikeroyok, Sosiolog : Main Hakim Sendiri jadi Momen Penyaluran Kekesalan Individu

Dari 14 orang saksi tersebut, disebutkan bahwa tersangka utama adalah pemuda berinisial R.

R diduga memprovokasi pengendara lain dengan berteriak maling karena tersenggol oleh kendaraan korban.

"Ini yang diakui oleh pemilik motor (tersangka) yang diserempet tersebut. Pemilik motor yang tersenggol tersebut mengakui memprovokasi dengan teriakan maling," jelas Zulpan.

Akibatnya, kata Zulpan, pengendara lain yang berada di sekitar lokasi kejadian berusaha mengejar HM, sampai akhirnya berujung aksi pengeroyokan. 

"Sehingga mengakibatkan orang-orang di sekitar berempati dan mengejar secara beramai-ramai dengan menggunakan motor terhadap pengemudi Toyota Rush tersebut," ungkap Zulpan.

Kejadian main hakim sendiri yang berujung pengeroyokan dan bahkan kematian, bukan hanya kali ini terjadi.

Hal ini pun diakui oleh Sosiolog Universitas Gadjah Mada, A.B Widyanta. Saat dihubungi Kompas.com, Selasa (25/1/2022), Abe sapaan akrab A.B Widyanta ini mengatakan, fenomena main hakim sendiri oleh massa ini memang semakin sering terjadi di masyarakat kita.

Lebih sering lagi, hal ini terjadi di masyarakat urban atau semi urban.

Kohesi dan solidaritas sosial yang semakin longgar dalam masyarakat urban menyebabkan anonimitas dan impersonalitas dalam tindakan sosial maupun hubungan sosial di masyarakat, dan membuat mereka melakukan tindakan nekat tanpa perasaan, tidak pandang bulu, sertat tanpa basis kesadaran dan rasi.

Selain itu, Abe juga menyebutkan bahwa fenomena main hakim sendiri ini merupakan efek dari psikologi massa yang tengah mengamuk itu memiliki kecenderungan relatif sulit untuk mengontrol dan mengendalikan, kemarahan dan frustasi sosial yang ada.

"Bisa jadi, penganiayaan dan main hakim itu dijadikan momentum bagi penyaluran kekesalan dan amarah sosial massa," kata Abe.

Baca juga: Kakek Tewas Dikeroyok karena Diteriaki Maling, Mengapa Orang Main Hakim Sendiri?

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.