Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 25/01/2022, 20:05 WIB
Zintan Prihatini,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) sering disebut sebagai elemen penting untuk mendeteksi varian Omicron. Namun, saat ini pemerintah tidak lagi menggunakan WGS untuk mendeteksi Omicron dan hanya menggunakan PCR-SGTF (S-gene Test Failure).

Hal itu diungkapkan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (24/1/2022) kemarin.

Dijelaskannya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hanya akan menggunakan PCR-SGTF untuk memeriksa kasus probable Omicron. Sedangkan, pemeriksaan WGS saat ini ditujukan untuk melihat pola penyebaran Omicron di Indonesia.

"Dari sisi surveillance (pengawasan), ditekankan karena kasusnya semakin banyak, genome sequence akan lebih kita arahkan untuk menganalisa pola penyebaran kasus Omicron," ujar Menkes Budi.

Baca juga: Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Saat ini, kata Budi, PCR dengan SGTF sudah mulai didistribusikan ke daerah di Indonesia. Dia berharap, pemerintah daerah akan displin melakukan testing 1 per 1.000 penduduk per pekannya sesuai dengan protokol yang ada.

Lantas apakah PCR-SGTF efektif untuk mendeteksi Omicron?

Ahli Epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman mengungkapkan, bahwa hingga saat ini PCR menjadi tes yang paling akurat untuk mendiagnosis Covid-19.

Akan tetapi, menurutnya tes Covid-19 dengan PCR memiliki kekurangan lantaran hanya bisa memastikan bahwa spesimen yang diperiksa terinfeksi virus corona atau tidak.

Sementara, apabila ingin mengetahui varian Covid-19 itu sendiri pengujian yang selanjutnya digunakan adalah WGS.

"WGS itu manfaatnya adalah mengetahui varian mana yang menyebabkan seseorang terinfeksi Covid, apakah Beta, Gamma, Alpha, atau (varian) yang lain bukan varian yang terdaftar di variant of concern (VoC) bisa saja ada varian baru misalnya," papar Dicky kepada Kompas.com, Selasa (25/1/2022).

Dia menambahkan, WGS tetap perlu dilakukan sebagai surveillance genom untuk mengetahui varian virus apa saja yang ada di Indonesia, terlebih ditengah melonjaknya kasus varian Omicron.

Baca juga: Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com