Kompas.com - 25/01/2022, 18:02 WIB


KOMPAS.com- Seorang kakek berinisial HM (89) tewas usai diteriaki maling dan dikeroyok sekumpulan massa di Jalan Pulo Kambing Raya, Cakung, Jakarta Timur, Minggu (23/1/2022).

Dalam penelusuran atau hasil penyelidikan lebih lanjut oleh kepolisian menjelaskan bahwa kejadian tersebut merupakan kesalahpahaman antara korban dan sekumpulan massa itu.

Korban bukanlah seorang pencuri atau maling. Seorang tersangka mengejar dan sengaja berteriak maling kepada kakek yang sedang mengendari mobil itu, hingga masyarakat dan pengendara lainnya di jalanan tersebut turut membantu mengejar korban.

Alhasil, bukan hanya dikejar sampai korban tertangkap oleh mereka. Tetapi, tersangka dan para saksi lainnya juga mengeroyok korban sampai meninggal dunia.

Mungkin kejadian yang menimpa kakek HM ini bukanlah yang pertama terjadi.

Namun, peristiwa buruk yang kerap timbul karena salah paham tanpa keinginan menerima penjelasan terlebih dahulu menimbulkan pertanyaan, mengapa orang mudah sekali terhasut dan main hakim sendiri?

Menanggapi kasus kakek diteriaki maling dan tewas dihakimi massa, Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), A.B Widyanta mengatakan, fenomena main hakim sendiri ini bukanlah sesuatu yang baru terjadi.

Baca juga: Kasus Baim Wong, Kakek Suhud dan Nikita Mirzani, Begini Sosiolog Menilainya

 

Banyak persoalan atau kasus yang berujung pada kondisi buruk bahkan kematian akibat massa yang main hakim sendiri ini, seperti kasus kakek tewas dikeroyok warga setelah diteriaki maling. Ada dua alasan massa melakukan hal ini.

1. Masalah masyarakat urban

Abe sapaan akrab A.B Widyanta mengatakan, fenomena main hakim sendiri oleh massa semakin sering terjadi di masyarakat kita, secara lebih khusus masyarakat urban atau semi urban.

Kohesi dan solidaritas sosial yang semakin longgar dalam masyarakat urban menyebabkan anonimitas dan impersonalitas dalam tindakan sosial maupun hubungan sosial di masyarakat. 

"Anonimitas dan impersonalitas di tengah amuk massa itu, orang cenderung akan melakukan tindakan nekat, tanpa perasaan, tanpa basis kesadaran dan rasio, tanpa pandang bulu, dan berupaya memaksakan kehendak berdasarkan impulse (hasrat yang menyerang secara mendadak) masing-masing orang," kata Abe kepada Kompas.com, Selasa (25/1/2022).

2. Psikologi massa 

Selanjutnya, penyebab mengapa massa mudah main hakim sendiri adalah psikologi massa tersebut.

"Psikologi massa yang tengah mengamuk (amuk) semacam itu relatif sulit dikontrol dan dikendalikan," kata dia menjelaskan kasus kakek 89 tahun dikeroyok massa hingga tewas setelah diteriaki maling.

Baca juga: Apa Pembelajaran dari Kasus Baim Wong, Kakek Suhud dan Nikita Mirzani?

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.