Kompas.com - 24/01/2022, 20:30 WIB

KOMPAS.com - Kasus infeksi omicron semakin meningkat trennya di banyak negara, termasuk Indonesia. Bersamaan dengan itu, kasus infeksi varian Delta juga belum selesai.

Dokter Spesialis Paru Konsultan, Dr dr Erlina Burhan MSc., Sp.P(K), mengatakan, dari beberapa data sementara yang ada, para ahli menemukan bahwa orang yang terinfeksi Omicron memiliki kemungkinan besar punya imunitas atau antibodi yang bisa melawan varian Delta.

Hal ini disampaikan Erlina dalam diskusi daring bertajuk "Super Immunity on Covid-19 : What and How?", Sabtu (22/1/2022).

Erlina menjelaskan, penelitian pre-print atau yang belum terbit dalam medRxiv menunjukkan kemampuan antibodi pada pasien infeksi Omicron untuk menetralisasi virus varian Delta.

Penelitian itu hanya mengidentifikasi netralisasi antibodi Omicron terhadap varian Delta, tetapi belum melanjutkan dengan tingkat netralisasi antibodi untuk varian virus Corona SARS-CoV-2 lainnya.

Baca juga: Gejala Khas Omicron, Mirip Flu tapi Tenggorokan Nyeri atau Gatal

"Terhadap Delta, ada (netralisasi antibodi Omicron), tapi belum ada terhadap varian lainnya. Tapi ini data masih pre-print, masih akan di-review apakah data-datanya cukup dan lengkap untuk bisa diterbitkan," jelasnya.

Apabila kadar antibodi netralisasi sudah tercapai, diharapkan seseorang terhindari dari paparan virus varian Delta.

"Neutralisasi Delta pada antibodi dari individu yang terinfeksi Omicron lebih tinggi 6.1 kali lipat dibanding terhadap Omicron," kata Erlina.

Sementara itu dalam kajian yang sama, ditemukan juga bahwa netralisasi Omicron oleh antibodi lebih tinggi pada pasien yang telah divaksinasi Covid-19.

"Ini sekali lagi ingin menunjukkan atau menyampaikan bahwa vaksinasi tetap penting, jangan menganggap kalau sudah jadi penyintas dan punya imunitas, lalu tidak perlu divaksin. Salah ya," kata dia.

Baca juga: Kasus Omicron Meningkat, 5 Organisasi Profesi Dokter Minta Pemerintah Evaluasi Pembelajaran Tatap Muka 100 Persen

"Jadi Omicron ini bisa dinetralisir atau dilumpuhkan oleh antibodi dan kemampuannya lebih tinggi pada pasien yang telah divaksin," tambahnya.

Dengan adanya antibodi netralisasi yang lebih tinggi 6.1 kali lipat ini, Erlina mengatakan, penyebaran Omicron antarsel (Cell-to-cell spread) di paru diperkirakan berkurang dibanding varian lain, sehingga angka infeksi atau kejadian peradangan paru turun (rendah).

"Jadi seperti yang dilaporkan CDC hanya 16 persen pasien (terinfeksi Omicron) mengalami sesak napas, itu mengindikasikan bahwa kejadian peradangan atau infeksi di paru itu memang rendah," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.