Kompas.com - 21/01/2022, 09:02 WIB


KOMPAS.com - Rover Curiosity atau wahana penjelajah luar angkasa milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah menemukan sampel yang mengandung banyak karbon purba di Mars.

NASA mengatakan, bahwa setelah dianalisis sampel batuan planet Mars yang dibawa robot penjelajah itu tampaknya terkait dengan proses biologis di Bumi.

"Kami menemukan hal-hal yang sangat menarik di Mars, tetapi kami membutuhkan lebih banyak bukti untuk mengatakan bahwa kami telah mengidentifikasi kehidupan," ujar peneliti di Sample Analysis at Mars (SAM) Paul Mahaffy.

Dilansir dari laman resmi NASA, Selasa (18/1/2022) Mahaffy memaparkan saat ini peneliti sedang mencari tahu apa yang bisa menyebabkan karbon yang mereka temukan, jika tidak menandakan kehidupan di Mars.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 18 Januari 2022 ini, menjelaskan keberadaan karbon organik dari bakteri purba yang terinspirasi oleh kehidupan di Bumi.

Baca juga: Turunkan Emisi Karbon dengan Cara Tidak Biasa

 

Dalam studi karbon purba planet Mars ini, para peneliti mengungkapkan, bahwa bakteri tersebut menghasilkan karbon saat melepaskan metana ke atmosfer, kemudian diubah menjadi molekul lebih besar dan lebih kompleks oleh sinar ultraviolet.

“Hal tersulit adalah mengecualikan Bumi dan melepaskan bias yang kita miliki untuk benar-benar mendalami proses kimia, fisika, dan lingkungan di Mars,” kata ahli astrobiologi Goddard, Jennifer L Eigenbrode.

Adapun peneliti lainnya berpendapat bahwa kandungan karbon tersebut dihasilkan dari interaksi sinar ultraviolet dengan gas karbon dioksida di atmosfer Mars, sehingga menghasilkan molekul yang mengandung karbon baru di permukaan.

Sementara pendapat lain mengatakan karbon itu mungkin sisa-sisa dari peristiwa langka, ratusan juta tahun yang lalu.

“Ketiga penjelasan tersebut sesuai dengan data. Kami hanya membutuhkan lebih banyak data untuk itu,” jelas pemimpin studi, Christopher House.

Untuk menganalisis karbon purba di permukaan Mars, House dan timnya menggunakan instrumen Tunable Laser Spectrometer (TLS) di laboratorium SAM.

Baca juga: Terungkap, Dampak Karbon Dioksida pada Bumi 30 Juta Tahun Lalu

Halaman:


Video Pilihan

Sumber NASA
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.