Kompas.com - 19/01/2022, 19:30 WIB

KOMPAS.com - Para ilmuwan telah mengidentifikasi faktor risiko genetik potensial, yang dapat menjelaskan alasan beberapa orang kehilangan indera perasa dan penciuman saat terinfeksi Covid-19.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Gencetics, para peneliti di perusahaan genomik dan bioteknologi 23andMe mengumpulkan data mengenai kehilangan bau atau rasa terkait Covid-19.

Sebagai informasi, enam bulan setelah terinfeksi corona, sebanyak 1,6 juta orang di Amerika Serikat masih belum bisa mencium atau mengalami perubahan kemampuan mencium.

Meskipun penyebab hilangnya kemampuan rasa dan bau tersebut belum diketahui secara pasti, para ilmuwan menduga hal ini berasal dari kerusakan sel yang terinfeksi di bagian hidung yang disebut epitel penciuman, yakni sel-sel yang melindungi neuron penciuman untuk membantu manusia mencium.

Baca juga: Terapi Vitamin A Lewat Hidung Sedang Diuji Coba untuk Obati Anosmia

"Bagaimana kita mendapatkan infeksi hingga kehilangan penciuman masih belum jelas," kata seorang profesor otolaringologi di Universitas Vanderbilt Dr. Justin Turner, yang tidak terlibat dalam penelitian.

"Data awal menunjukkan sel-sel pendukung epitel penciuman paling banyak terinfeksi oleh virus, dan mungkin ini menyebabkan kematian neuron itu sendiri. Tapi kami tidak benar-benar tahu mengapa dan kapan itu terjadi, dan mengapa itu tampaknya terjadi pada orang tertentu," lanjut dia.

Sebuah lokus genetik di dekat dua gen penciuman dikaitkan dengan hilangnya kemampuan indera penciuman dan rasa yang disebabkan oleh Covid-19. Lokus merupakan posisi tetap dari gen pada kromosom.

Faktor risiko genetik ini meningkatkan kemungkinan seseorang yang terinfeksi SARS-CoV-2 akan mengalami kehilangan penciuman atau pengecapan sebesar 11 persen. Namun, beberapa perkiraan menunjukkan 4 dari 5 pasien Covid-19 mendapatkan kembali kemampuan dari kedua indera tersebut.

Baca juga: Anak Positif Covid-19 dan Menderita Anosmia, Begini Cara agar Anak Mau Makan

Studi

Para peneliti melakukan penelitian dengan responden tinggal di Amerika Serikat atau Inggris Raya.

Sebanyak 69.841 orang melaporkan hasil tes positif, dengan 68 persen di antaranya melaporkan kehilangan penciuman atau rasa sebagai salah satu gejala. Hilangnya penciuman dan rasa digabungkan sebagai satu pertanyaan survei.

Penelitian ini membandingkan peserta positif yang melaporkan kehilangan rasa dan bau, dengan orang yang positif terpapar corona tapi tidak mengalami efek tersebut.

 Melansir CTV News, hal tersebut lebih mungkin dialami perempuan dengan presentase 72 persen dibandingkan pria sebesar 61 persen.

Tim peneliti menemukan wilayah genom yang terkait dengan kemampuan membau dan merasa terletak di dekat dua gen, yaitu UGT2A1 dan UGT2A2. Kedua gen ini diekspresikan dalam jaringan di dalam hidung yang terlibat dalam penciuman dan berperan dalam metabolisme bau.

Baca juga: Tak Hanya Indera Penciuman, Bagaimana Covid-19 Bisa Merusak Kelima Indera?

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.