Kompas.com - 19/01/2022, 08:02 WIB


KOMPAS.com - Para ilmuwan terus memantau Gunung Tonga setelah letusan gunung berapi bawah laut ini menyebabkan tsunami di berbagai negara Pasifik.

Gunung Tonga adalah salah satu gunung api bawah laut yang cukup aktif yang berada di lepas pantai Pasifik Selatan pulau Tonga.

Gunung Tonga meletus pada Sabtu (15/1/2022) lalu, setelah ledakan erupsi gunung ini menghancurkan kawah permukaan laut dan menenggelamkan massanya.

Letusan gunung berapi Hunga-Tonga-Hunga-Ha'apai, yang terletak di Cincin Api Pasifik yang aktif secara seismik, mengirimkan gelombang tsunami melintasi Samudra Pasifik dan terdengar sekitar 2.300 km (1.430 mil) jauhnya di Selandia Baru, dilansir dari Reuters, Selasa (18/1/2022).

"Kekhawatiran saat ini adalah betapa sedikitnya informasi yang kami miliki (tentang aktivitas Gunung Tonga) dan itu menakutkan," kata Janine Krippner, ahli vulkanologi yang berbasis di Selandia Baru dalam Smithsonian Global Volcanism Program.

Krippner mengatakan bahwa kemungkinan instrumen di tempat erupsi terjadi telah hancur saat Gunung Tonga meletus.

Komunitas vulkanologi pun mengumpulkan data dan keahlian terbaik mereka untuk meninjau letusan gunung api ini, dan memprediksi aktivitas vulkanik Gunung Tonga di masa depan untuk mengantisipasi dampak erupsinya.

Baca juga: Tsunami Tonga, Ahli Jelaskan Dampak Letusan Gunung Berapi Bawah Laut

Para ahli mengatakan bahwa letusan Gunung Tonga pada akhir pekan lalu sangat kuat, sehingga satelit luar angkasa tak hanya menangkap awan abu yang sangat besar.

Satelit luar angkasa juga menangkap gelombang kejut di atmosfer yang memancar keluar dari gunung berapi dengan kecepatan yang mendekati kecepatan suara.

Pada sekumpulan foto-foto dan video letusan Gunung Tonga menunjukkan awan abu mengepul di atas lautan Pasifik Selatan.

Letusan gunung berapi ini pun memicu gelombang tsunami Tonga setinggi satu meter melonjak ke pantai Tonga.

Hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai korban, baik yang terluka maupun korban jiwa akibat tsunami Tonga paska meletusnya gunung ini, sebab, komunikasi internet dan telepon sangat terbatas di daerah pesisir yang terpencil.

Para ahli mengatakan bahwa gunung berapi Tonga, yang terakhir kali meletus pada tahun 2014, telah terengah-engah selama sekitar satu bulan sebelum naiknya magma.

Saat Gunung Tonga meletus, suhu magma juga semakin panas hingga sekitar 1000 derajat Celsius, bertemu dengan air laut yang suhunya 20 derajat Celsius, sehingga memicu ledakan seketika dan besar.

Baca juga: Peringatan Tsunami Gunung Tonga, Dicabut di Berbagai Negara

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.