Gempa Megathrust Selat Sunda Bisa Memicu Gelombang Tsunami, Ini Saran Mitigasi Menurut Ahli

Kompas.com - 18/01/2022, 13:05 WIB
Ilustrasi gempa terkini, gempa bumi, gempa tektonik, gempa tidak berpotensi tsunami. SHUTTERSTOCK/Andrey VPIlustrasi gempa terkini, gempa bumi, gempa tektonik, gempa tidak berpotensi tsunami.

KOMPAS.com - Gempa Banten berkekuatan M 6,7 pada Jumat (14/1/2022) lalu, guncangannya dilaporkan terasa di Jakarta, Jawa Tengah bagian barat hingga Lampung.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa bumi ini berlangsung pada pukul 15.05 WIB.

Diberitakan Kompas.com, Sabtu (15/1/2022) pakar Tektonik Aktif Geologi Gempa Bumi dari Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM, Gayatri Indah Marliyani mengatakan bahwa gempa Banten itu merupakan bagian dari zona megathrust Jawa.

Berdasarkan analisis gempa, Gayatri menuturkan bahwa pusat gempa Banten yang merupakan megathrust Jawa ini ditunjukkan dari kedalamannya yang cukup besar yaitu 40 kilometer.

Baca juga: 3 Kriteria Gempa Bumi yang Dapat Menyebabkan Tsunami

Sementara itu, dijelaskan Perekayasa di Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai Badan Riset dan Inovasi Nasioanl (BRIN), Widjo Kongko gempa Banten yang berpusat di Selat Sunda tidak menyebabkan tsunami.

Sebab, gempa tersebut terjadi di daerah yang disebut sebagai seismic gap atau zona yang tidak menunjukkan adanya aktivitas seismik.

Akan tetapi, gempa Banten tersebut, dikatakan Widjo menandakan Indonesia termasuk wilayah yang rentan bencana gempa bumi dan tsunami.

“Gempa yang terjadi di Banten ini mengingatkan adanya potensi ancaman di Selatan Jawa, Selat Sunda, Sumatera, dengan potensi megathrust-nya,” ujar Widjo dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (17/1/2022).

Widjo menambahkan, potensi gempa bumi megatrust Selat Sunda bisa mencapai M 8,7 dan berpotensi terjadi bersamaan dengan segmentasi di atasnya yaitu megathrust Enggano dan di sebelah timurnya, megathrust Jawa Barat-Jawa Tengah.

“Potensi yang demikian energinya mirip gempa bumi dan tsunami Aceh 2004. Namun, karena secara umum kedalaman laut di daerah sumber gempa lebih dalam dibandingkan dengan yang kejadian 2004, maka berdasar perhitungan model, secara saintifik tsunami yang terjadi bisa lebih tinggi dari Aceh,” jelas Widjo.

Rekomendasi mitigasi tsunami 

Terkait dengan mitigasi tsunami yang diakibatkan gempa bumi megathrust, Widjo mengingatkan masyarakat untuk tidak panik.

Bagi masyarakat, Widjo menyarankan aspek mitigasi yang bisa dilakukan ialah memahami tentang konsep evakuasi mandiri, dan tidak terlalu mengandalkan teknologi yang ada saat ini.

Dia mengatakan, pemerintah daerah serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga dapat meningkatkan upaya mitigasi tsunami tersebut.

“Kita harus siapkan program mitigasi bencana yang diperlukan, di antaranya menyiapkan peta ancaman dan peta risiko detil di setiap daerah, memberikan edukasi bencana kepada masyarakat, menyiapkan tempat evakuasi yang layak, dan secara rutin melakukan simulasi menghadapi tsunami," katanya.

Baca juga: Kenapa Indonesia Sering Terjadi Gempa Bumi? Ahli Jelaskan

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.